Jumat, 05 Juni 2009

Doraemon........







Gambar Kesukaanku....







Kartunku.......





Kamis, 04 Juni 2009

Sebagai Sahabat


ENTAH! Mungkin itu jawabku, jika ditanya kapan luka akibat kepergian Wilo, terlupakan di hatiku. Ya, terlupakan! Karena dulu aku mengangapnya sembuh, namun kini luka lagi. Dengan perih yang sama, sakit yang serupa!
Tak salah jika waktu adalah obat paling mujarab, terampuh untuk merawat luka. Tidak dengan siapa-siapa, tidak dengan ke mana, luka itu terawat sendiri bahkan terlupakan bersama waktu yang semakin beranjak. Kesedihan tertinggal setapak demi setapak, bersama mengeringnya air mata setetes demi setetes. Lalu berganti senyum, bahkan tawa, hingga berubah seperti kini. Seperti Ifah yang kini! Ifah tanpa masa lalu tentang Wilo.
Kalaupun kuakui, aku terluka lagi kini. Tak akan membuatku menangis. Wilo bahkan tak boleh tahu jika kemarin aku terluka. Yang dia harus tahu, aku tertawa bahkan melompat kegirangan saat berhasil mengusirnya dari hatiku.
“Kamu kurusan!” ucapnya setelah membiarkanku kembali ke masa lalu bersamanya.
“Ya, mungkin karena aku terlalu berambisi kuliah di Perguruan Tinggi Negeri, dengan Fakultas Kedokteran, pula. Apalagi saat ambisi itu terkabul, aku masih punya banyak mimpi. Aktif di organisasi, misalnya. Entah kenapa, aku merasa semakin sempurna dengan keadaanku saat berorasi di depan teman mahasiswa,” Panjang lebar aku bicara, demi menutupi keadaan yang sebenarnya terjadi sejak kepergiannya.
“Jadi bukan karena menyesal telah mencampakkanku?”
Aku tergelak. Bahkan menggeleng lantang meski hatiku merasa terpojok, seperti kedapatan nyolong dengan barang bukti di tangan.
“Wilo! Kalau aku menyesal karena telah mencampakkanmu, aku bisa aja kembali. Kapan aja, termasuk sekarang. Karena kutahu kamu akan terus mengharapku. Jadi buat apa aku rela berkurus-kurus hanya untuk menyesalinya.”
Aku tak berani menatapnya saat kalimat barusan kuucap. Kalimat yang telah menganggapnya sebagai cowok yang tak punya harga apa-apa, tak berarti sedikit pun. Padahal, begitu banyak cewek yang hanya mampu menelan ludah saat berangan memiliki Wilo yang cakep. Cewek harus punya plus tersendiri untuk bisa mendekati Wilo. Terutama karena Wilo sedikit dingin, bahkan berkesan berwibawa di permukaan.
“Terima kasih jika kamu mengerti bahwa aku masih mencintaimu hingga kini.”
Terhempas hatiku oleh badai tiba-tiba. Kucoba menenangkan gemuruh itu. Jika tidak, aku takut malah terbujuk untuk kembali padanya. Tidak! Tolong aku, Tuhan! Ya, hati yang tadi terhempas, kini tiba-tiba bersimpuh memohon. Aku menggeleng lagi, lantang! Saat kubayangkan wajah Erin terperangah mendengar kabar bahwa aku dan Wilo jadian.
“Wilo…Wilo! Harusnya waktu yang memisahkan kita selama ini, membuatmu lupa padaku. Apa susahnya, sih? Anggap aja aku enggak pantas untukmu. Terlalu tinggi untuk kau gapai, atau apa aja yang bisa membuatmu menyerah!”
Aku mengambil langkah pergi. Tanpa pamit! Berlama-lama dengannya, malah membuat luka lama itu lebih perih dari sebelumnya. Siapa sih yang bisa jauh dari Wilo, apalagi sampai mendapatkan penggantinya. Tidak ada! Bukan buta karena cinta, tapi memang semua yang kucari ada pada diri Wilo. Sayang, bukan hanya aku yang mendambanya. Ada Erin sahabatku!
Kudengar langkahnya memburu dari belakang. Bersama kalimat-kalimatnya yang membuatku ingin berbalik memeluknya. Tapi Erin? Aku tetap melangkah, meski saat tiba di tempat parkir, saat masuk dalam rongga Avanza-ku, aku belum bisa memutar kunci kontak lalu kabur. Aku bersandar di jok, di luar dia berdiri tanpa berani masuk mobil sebelum kubukakan pintu.
Curi lirik, kulihat dia bersandar di pintu mobil. Mungkin dia yakin aku akan keluar dan menemuinya untuk bicara. Aku masih mematung. Hanya tatapanku yang kuterbangkan cepat saat dia menangkapku tengah menatapnya. Tatap yang…? Aku tak tahu, perasaan apa yang ada di balik dadaku kini. Wilo semakin cakep, lebih berwibawa! Lalu ke mana Erin?
“Erin sering mencarimu,”
Suaranya kudengar dari luar, masih bersandar di pintu mobil. Suara itu membuatku menangis. Aku telah melukai dua orang sekaligus. Wilo dan Erin! Padahal semua kulakukan demi kebahagiaan keduanya. Aku tak sanggup menyaksikan tatapan Erin hampa meski bibirnya menuturkan kalimat yang penuh luapan kegembiraan.
“Kamu jadian dengan Wilo? Apa aku bilang, dia akan lebih memilihmu. Selamat deh!”
Jika aku bukan sahabatnya, jika aku tak mengenalnya sejak di bangku SD, aku tak akan mampu membaca kesedihannya saat menuturkan kalimatnya. Padahal dia tersenyum, bahkan tertawa saat itu. Berahun-tahun aku berbagi tawa dengannya, baru kali itu kulihat tawanya hanya di bibir. Tak ada di matanya!
Aku tak berani mengakui jika aku lebih cantik dari Erin. Tapi bisa kupastikan jika Wilo menjatuhkan pilihannya padaku hanya karena Erin yang punya masa lalu hitam dalam keluarganya. Saat itu, hampir semua siswa mencemohkannya, kecuali aku dan Wilo. Erin bahkan pernah memutuskan berhenti sekolah, hanya karena tak tahan mendengar gunjingan di sekolah. Tentang papanya yang terlibat affair dengan seorang selebritis.
Perihnya lagi, sosok papanya yang sering turun tangan dalam baksos sekolah, termuat di mading karena jasanya. Berganti dengan kliping tentang affair itu. Entah siapa yang mengedarkan kliping itu, guru atau siswa. Karena setahuku, banyak guru yang mengincar posisi papa Erin sebagai kepala sekolah. Juga banyak siswa yang iri dengan kepintaran Erin.
Aku ingin berbagi. Tapi tak tahu harus bagaimana, menjadi pelabuhan tangisnya, tentu saja tak cukup. Kurasakan berat mata ini memandang dukanya, tentulah lebih berat buat dia yang memikulnya. Aku ingin bebuat sesuatu untuk meringankan bebannya, tapi sekali lagi, aku tak tahu harus bagaimana.
Saat kudapatkan luka kehilangan di matanya saat aku jadian dengan Wilo barulah kusadar bahwa Wilo bisa membuatnya bahagia.
Aku ingin merasakan bagaimana perihnya saat Erin sahabatku, terkucil dari pergaulan, memendam luka karena kehilangan sosok papanya yang selalu dibangga-bangakannya. Satu-satunya cara untuk merasakan luka itu, hanya dengan membangga-banggakan Wilo lalu mencampakkannya.
Perih sekali! Saat aku harus memulai eksekusi itu. Menghina Wilo habis-habisan di depan umum, bahkan menamparnya! Bukan hanya Wilo yang tak percaya dengan perubahanku, tapi semua orang. Ifah yang manis berubah sinis, antagonis bahkan memandang rendah semua orang. Satu tujuanku, aku ingin dikucilkan! Merasakan derita Erin dulu. Dan seperti yang kuduga, Wilo melarikan cintanya ke Erin. Tujuanku pun tercapai!
Meski luka itu perih menyerang, aku tak menyesal dengan tindakan bodohku. Bukankah itu yang kuinginkan, merasakan luka yang pernah mendera sahabatku. Paling tidak, di antara kelukaan itu, aku telah merasakan diriku menjadi sahabat yang sempurna, sejati! Meski di mata semua orang, aku telah berubah sombong!
Jika ada yang tahu, betapa perihnya luka yang kurasa mungkin akan mengangkat jempol untukku! Tapi aku tak ingin itu, aku tak ingin Wilo atau siapa pun tahu. Kutakut Wilo semakin memburuku, meninggalkan Erin kembali!
“Erin ingin berbuat sesuatu untukmu. Demi mengembalikan kamu menjadi Ifah yang manis, lembut. Tidak seperti sekarang, angkuh! Tapi Erin, juga aku tak tahu harus berbuat apa. Bahkan tak mengerti, apa yang membuatmu berubah sedrastis itu.”
Entah pada menit kapan Wilo masuk ke rongga mobilku. Aku tak menyadarinya! Juga seperti tanpa sadar saat tanganku meraih handle pintu di sampingnya dan berucap kasar.
“Silakan keluar dari mobilku. Aku mau pergi!”
“Ifah! Katakan, apa yang membuatmu seperti ini…”
“Seperti apa? Inilah aku yang sebenarnya. Ifah yang tahun ini lulus masuk Kedokteran, tanpa gugup bicara di mimbar mahasiswa, bahkan bisa ganti mobil tiap hari. Dan mungkin bulan depan akan masuk dalam jajaran idola remaja, karena baru kemarin aku terjaring audisi untuk jadi bintang.
Jadi enggak cukupkah semua itu untuk kubanggakan, kusombongkan? Dan enggak cukupkah membuatmu mengerti bahwa kamu bukan levelku. Kamu pantasnya dengan Erin, puteri kepala sekolah yang terkucil karena dosa papanya?”
Berat sekali kulihat Wilo mengambil langkah turun dari mobilku. Aku ingin mengakhiri sandiwara ini. Aku tersiksa. Aku menangis! Tapi sebagai sahabat aku tak ingin melukai Erin lagi. Karena kutahu pasti, jika Wilo tahu aku terluka karena mencampakkannya, dia akan membuatku kembali bertekuk lutut di depannya. Aku tak mau itu!
Demi kamu, Erin! Bisik hatiku sambil memutar kunci kontak, lalu mengakselarasi mobilku. Melaju cepat, meninggalkan debu jalanan yang terbang mengotori wajah putih Wilo!
***


Dewi Penolong


Oleh: S. Gegge Mappangewa

SUASANA rumah sakit cukup ramai. Lalu lalang perawat dan tim medis lainnya yang berseragam putih bersih, seolah tak terlihat di mata Neno. Dia ragu pada keputusan yang sejak dari rumah tadi, telah bulat. Dia merasa telah menghianati persahabatannya dengan Hanna, jika dia melakukan apa yang kini ada di benaknya.
Persahabatan? Mungkin lebih dari itu! Neno merasa, Hanna banyak membantunya. Sejak memutuskan untuk tidak menerima bantuan apapun dari Mama dan Papanya, hidupnya bergantung pada Hanna. Mulai dari biaya makan hingga uang yang digunakannya tiap hari, semua berasal dari uang saku Hanna yang juga didapatkan dari orangtuanya yang pas-pasan pula.
Ini bulan ketiga dia membuang diri. Entah sampai kapan dia harus bertahan. Bulan depan dia harus membayar SPP. Selama ini, kalau pun uang Hanna cukup untuk hidup berdua, itu karena mereka berhemat. Selain uang untuk makan dan keperluan sekolah, tak ada biaya lain yang keluar.
Ego Neno belum juga reda. Setiap bulan saldo rekeningnya bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Tapi sedikit pun dia tak ada niat untuk mengambil uang pemberian Mama dan Papanya. Dia mengecek saldo via ATM, bukan untuk tahu jumlahnya, tapi untuk memastikan bahwa Mama dan Papanya telah resmi cerai.
Saldo yang dua kali lipat itu, cukup sebagai bukti bahwa Mama dan Papanya tak bisa akur. Mama juga Papanya, mungkin kasihan pada Neno atau mungkin cuma ajang promosi agar Neno mau memilih satu di antara mereka. Mama atau Papa! Mereka berdua saling ingin membuktikan cintanya pada Neno, dengan tetap mentransfer uang untuknya. Sayang sekali, Neno tak butuh itu. Dia ingin buktikan pada Mama dan Papanya, jika dia akan pergi dari rumah dan tak akan kembali, juga tak butuh apapun, bila Mama dan Papanya tak rujuk kembali.
Neno merasa segalanya telah hancur. Semuanya telah terlanjur. Jadi buat apa pulang ke rumah? Hanya melukakan jika tahu yang bertahan di rumah itu, Mama atau Papanya. Saking tak inginnya berhubungan lagi dengan Mama dan Papanya, kartu teleponnya dia buang, ponsel pun dia jual untuk biaya hidup sehari-hari.
Susah memang. Apalagi saat seperti ini, kondisi tubuhnya tak fit dan dia butuh uang untuk berobat. Uang dari mana? Dari Hanna? Neno cukup mengerti jika itu terlalu memberatkan, meskipun rumah sakit yaang ditujunya bukanlah rumah sakit swasta yang biayanya bisa mencekal leher. Padahal dulu, Neno punya dokter keluarga. Tinggal telepon, dokter datang mengetuk pintu. Sekarang? Dia masih ragu di antara keramaian rumah sakit.
Semalam dia mendapatkan kartu identitas berobat milik Hanna. Tanpa sengaja. Saat dia asyik membersihkan laci meja belajar dari kertas-kertas yang tak berguna. Tinggal di kamar kos adalah hal yang baru buat Neno, makanya setiap hari dia mencari kesibukan meskipun itu hanya dengan membersihkan kamar.
“Ini kartu berobat kamu, Han?”
Hanna merenung lama sebelum menjawab pertanyaan itu. Itu pun dengan anggukan.
“Aku pinjam ya? Akhir-akhir ini maag-ku kambuh. Pakai kartu ini, aku bisa bebas dari biaya adminitrasi. Lagian dokter nggak mungkin tahu kalau aku menyalahgunakan kartu orang lain. ”
“Ja…jangan! Kartu itu sudah kadaluarsa. Mak…maksudku nggak terpakai lagi.”
Neno tentu saja heran dengan kegugupan Hanna. Selama ini, barang apapun milik Hanna, bebas dia pakai.
“Kalau cuma maag, nggak usah ke rumah sakit. Cukup makan teratur. Atau paling juga sembuh dengan minum obat yang beredar di apotek. Usahakan jangan terlalu banyak mikir! Tau nggak, stress bisa bikin maag kambuh?” lanjut Hanna lagi.
Neno tak berucap apa-apa lagi. Dia bahkan tak curiga sedikit pun dengan kegugupan Hanna.
Tapi tadi, saat Hanna keluar dan maag-nya kambuh lagi. Dia nekat membawa lari kartu berobat itu. Satu hal yang tak bisa dilakukan Neno selama memisahkan diri dari orangtuanya, adalah minum obat yang bukan resep dokter. Pikirnya, Hanna tak akan marah hanya karena persoalan dia melanggar larangannya untuk tidak memakai kartu berobat itu.
Kini, setelah tiba di rumah sakit, di antara perih lambungnya, dia tiba-tiba berpikir jika apa yang dilakukannya kini adalah bukti pengkhianatan. Dan dia tak ingin itu. Dia tak mungkin mengkhianati Hanna yang telah memberinya tumpangan hidup. Padahal kalau dilihat dari segi ekonomi, Hanna bukanlah orang yang pantas untuk menerima dan mau menghidupinya untuk jangka waktu yang tak tentu. Hanya kebaikan hati-lah yang membuat Hanna punya kesempatan berbuat baik, untuk menolong!
Hanna juga tahu jika Neno punya uang di bank, hasil transfer dari Mama dan Papanya. Tapi dia tak menginginkan apalagi menuntut Neno untuk membuang egonya, lalu menerima bantuan Mama dan Papanya. Bahkan bukan hanya sekali, Hanna menceramahi Neno agar tak menyimpan dendam pada Mama dan Papanya.
“Aku bukan bosan ataupun nggak mau menampung kamu lagi. Aku hanya ingin kamu baikan dengan Mama dan Papa kamu. Gimanapun, mereka orangtua kamu. Mereka pasti punya alasan sehingga memilih cerai.”
Kalimat itu sering diperdengarkan Hanna. Hingga saat ini, masihlah sebatas mengalun di indera dengar Neno, dia belum bisa menanamkannya di hati.
Neno menghempas napasnya keras. Dia membalikkan tubuh dari keramaian rumah sakit. Dia ingin pulang. Membiarkan perih melilit lambungnya. Dia tak ingin mengkhianati Hanna. Dia harus meminta ijin kembali pada Hanna untuk menggunakan kartu itu. Memang kelihatannya sepele, tapi sekecil apapun persoalan, jika hati merasa dikhianati, biasanya susah diobati.
“Mungkin ada yang bisa kami bantu?” tegur seorang perawat yang dari tadi memperhatikan dia melamun.
Neno ingin menggeleng, tapi perawat itu terlanjur melihat kartu berobat di tangannya.
“Mau berobat? Sini saya bantu.”
Neno seakan tak punya daya selain dari kekuatan perawat yang menarik lengannya ke meja resepionis. Dia mengikut saja.
“Sering sakit perut, mual…” ucap Neno saat ditanya.
“Silakan antri di bagian gastroentritis. Dari sini lurus, tepat di ujung koridor, belok kiri!” jelas perawat yang bertugas di meja resepsionis sambil menyerahkan nomor antrian.
“Terima kasih!” ucapnya pada resepsionis, juga pada perawat yng mengantarnyaa barusan.
Sebenarnya Neno ingin mengambil jalan lain untuk pulang ke rumah, tapi tepat di ruangan gastroentritis, nomor antriannya langsung disebut dan dipersilakan masuk. Neno menurut saja.
Selesai membayar uang pemeriksaan yang tak sampai sepuluh ribu, dia masuk menemui dokter yang bertugas. Senyum ramah dokter itu sedikit mnghapus kerinduan pada Mama dan Papanya yang biasa mengeluarkan uang ratusan ribu untuk penyakit maag-nya. Kini…? Tak sampai sepuluh ribu! Itu pun berat buatnya dan harus menyalahgunakan kartu Hanna demi menghindar dari biaya adminitrasi pembuatan kartu.
“Hanna?”
“Iya, Dok!” Neno mengangguk tegas meski dokter mengerutkan kening seolah tahu bahwa dia bukan pemilik kartu yang sebenarnya.
“Maaf, saya nggak hapal dengan semua pasienku.”
Dari buku pemeriksaan Neno mengintip jika Hanna pernah berobat di ruangan ini. Itu berarti, Hanna juga punya keluhan pada lambung dan usus. Dia mulai menyadari kebodohannya. Mengapa dia tak pernah berpikir jika bisa saja dokter mengenali Hanna jika sering berobat di rumah sakit ini, apalagi di bagian gastroentritis ini.
“Maag-ku semakin parah, Dok.” keluh Neno cemas.
Dokter menatapnya tajam. Nyali Neno berkerut. Pikirnya lagi, masih menyesali kebodohan, bukan tak mungkin Hanna yang cantik, meninggalkan kesan di hati dokter muda yang kini menatapnya. Jadi mustahil untuk membohonginya jika dia adalah Hanna.
“Jadi kamu masih yakin jika penyakit kamu itu maag? Tiga bulan yang lalu saya sudah bilang, gejala yang kamu rasakan kemungkinan besar bukan maag tapi gagal ginjal.”
Neno tentu saja kaget mendengar semua itu. Hanna ternyata masih menyimpan rahasia untuknya. Apa untungnya? Harusnya Hanna berterus terang agar dia bisa membantunya mencari solusi.
“Tiga bulan lalu, saya konsul kamu ke ahli bedah, karena saya yakin ginjal kamu sudah rusak parah. Tidak semua sakit perut adalah gejala maag. Saya tahu kamu tak punya uang banyak, aku bahkan meminta teman di bagian bedah untuk nggak membebani kamu uang check up. Tapi kamu nggak pernah check up ke sana.
Lagi pula, jika kamu positif gagal ginjal, pihak rumah sakit memberi keringanan bahkan gratis berobat bagi keluarga yang tidak mampu seperti kamu, asal punya surat pengantar dari RT setempat. Kamu masih mau hidup, kan? Jika benar ginjal kamu yang rusak, dan sejak tiga bulan lalu kamu biarkan begitu saja, kamu nggak punya banyak kesempatan lagi…”
Air mata Neno mengalir. Tak pernah dia sangka, jika sahabat yang telah menyelamatkannya selama ini, ternyata lebih butuh uluran tangan. Terjawab sudah mengapa Hanna tak ingin meminjamkan kartu identitas berobatnya. Hanna menyimpan rahasia hidup yang tak ingin seorang pun tahu, hingga hidupnya berakhir sekali pun.
***
“Kamu mulai nggak jujur, No.” serang Hanna saat Neno telah berdiri di ambang pintu kamar kosnya.
Tak mendapatkan kartu berobatnya di laci meja belajar, membuat Hanna yakin jika Neno tak mengindahkan larangannya untuk tidak memakai barang miliknya itu.
“Terlebih kamu, Han. Kamu bahkan membiarkan dirimu menderita sendiri, tanpa mau membaginya…”
“Ja...jadi…”
“Kalau kamu nggak ingin membagi keluhmu untukku, mengapa kamu mau mendengarku mengeluh, menolongku, padahal kamu sendiri lebih membutuhkan?” Suara Neno meninggi.
Hanna yang tadi kecewa dan emosi pada sikap Neno, sepertinya sibuk mencari alasan.
“Kamu nggak tahu…”
“Aku tahu kamu nggak punya uang, Hanna. Aku datang mengeluh dan minta bantuan padamu, bukan karena aku menganggap kamu anak orang kaya yang bisa menyelamatkanku, tapi karena aku tahu bahwa kamu mau menolong siapa pun…”
“Neno…”
“Han,” Neno tak memberi kesempatan. “Jika kamu bisa menolongku, meski kamu dalam keadaan susah, mengapa aku nggak? Mengapa kamu meragukanku?”
Neno terdiam sesaat. Memberi kesempatan air matanya untuk turun, tapi tak mmberi kesempatan Hanna untuk bicara.
“Selama ini aku egois, nggak bisa menerima keputusan cerai Mama dan Papaku. Tapi sekarang nggak. Penyakit maag membuatku insyaf, terjaga. Bahwa sebagai anak, aku nggak mungkin melepaskan diri dari orangtuaku.”
Neno mengeluarkan kantongan hitam berisi uang yang baru saja ditariknya dari ATM. Hanna tercengang menyaksikan itu. Dia tak pernah menyangka, Neno akan membuang harga dirinya, melepas egonya untuk tidak menerima bantuan Mama dan Papanya, hanya karena dia.
“Kamu harus sembuh, Hanna. Ini baru sebagian dari saldo di rekeningku. Aku nggak mau kehilangan kamu. Jika masih kurang, aku nggak akan berpikir dua kali untuk menelpon Mama dan Papaku. Aku nggak mau mempertahankan ego, lalu membiarkan seorang sahabat sepertimu pergi dariku.”
Hanna membatu. Pelukan Neno pun seolah tak kuasa dibalasnya. Selama ini, Hanna menyembunyikan penyakitnya karena tak ingin menyusahkan orang lain, termasuk Mama dan Papanya di kampung. Dia tak pernah protes, mengapa Tuhan mengirimkan penyakit untuknya. Dia bahkan yakin jika itu cara Tuhan untuk memintanya berbuat baik tanpa mengharap pamrih.
Tapi kini, seorang dewi yang baru saja dia bantu mengepakkan sayap patahnya, mengulurkan tangan untuk menolong. Dia terharu, ingin menolak. Tapi dewi penolong itu mengajaknya untuk terbang bersama. Disadarinya, setiap orang berkesempatan menolong, asalkan punya hati yang tulus. Dan hanya hati tuluslah yang akan dibayar pamrih, jika bukan sekarang, Maha Penolong menjanjikan sebuah hari pembalasan.***

Kado Termahal


Oleh: S. Gegge Mappangewa
Kecelakaan pagi itu, membuatku kehilangan segala harapan. Jika tak sedih melihat mama yang selalu murung, SMA-ku bahkan tak ingin kuselesaikan. Saya benar-benar tak bisa melangkah, di atas kursi rodaku. Seolah semua orang yang melihatku, mencibir dan menertawai.


INI bulan kedua, saya menunggu kedatangan Benny. Suratnya yang terakhir, tiga bulan lalu, bercerita tentang rencana kepulangannya dari Jepang. Untuk menemuiku. Tentu saja dengan janji memberi kado untukku.
Ada kebohongan yang kusimpan rapi, katanya. Dia selalu dihantui mimpi buruk tentangku. Lalu kenapa dia tak juga pulang hingga kini? Mungkin saja dia telah tahu, kebohongan yang memang selalu tersembunyi rapi untuknya. Saya tak pernah bisa mengungkap kebohongan itu dalam suratku, meski seribu sinyal telah diterima Benny sebagai kecurigaan.
Mengapa kamu tak pernah balas emailku, mengapa harus via surat, sebegitu sibukkah kamu hingga tak bisa menyempatkan diri ke warnet? Dan seribu tanya lagi, yang hanya bisa kujawab dengan diam. Saya tak ingin menjadi beban pikiran Benny. Saya tahu betul, bagaimana besar perhatian Benny terhadapku. Begitu pun saya padanya. Sebagai sahabat, kami memang telah menunjukkan kesetiaan masing-masing.
Untuk pertama kalinya, kudengar suara Benny terisak lewat telepon, saat dengan terpaksa saya harus mengundurkan diri untuk pertukaran pelajar ke Jepang. Saya ingin sekali melihat air matanya, tapi sungguhlah tak mungkin. Pihak kedutaan Jepang, langsung mengkarantinakan Benny, setelah menyelesaikan interview dan tes tertulisnya, saat itu.
Tes saat itu sebenarnya, cukup bergengsi. Dari ratusan peserta yang ikut tes dari awal, hanya saya dan Benny yang lolos, dan itu hanya akan dipilih satu orang.
“Saya yakin kamu yang akan berangkat, Radar!” ucapnya semalam sebelum ikut tes.
“Dengan alasan apa?”
“Kamu satu level di atasku, di kursus Bahasa Jepang. Pengenalan Kanji-mu hampir menyamai orang Jepang asli.”
“Kamu juga nggak mungkin lolos hingga seleksi akhir, jika nggak ada yang istimewa dari kamu.”
Dia terdiam. Malam itu, dia gelisah sekali. Sangat! Saya bahkan menyalakan AC kamar, karena kupikir dia sedang kepenatan. Hanya semenit AC berhembus, dia mematikannya. Gelisahnya tak juga padam. Semakin menjadi. Bahkan sesekali kulihat tatapannya, menancap ke arahku, lalu terbang liar saat tatapan itu kubalas dengan diam.
Saya bisa mengerti. Benny adalah tumpuan harapan orangtuanya. Satu-satunya! Adik-adiknya yang masih kecil, masih butuh perjalanan panjang, untuk mencapai cita-citanya. Benny sendiri pun, sebenarnya terancam tak bisa kuliah setelah lepas SMA. Papanya yang hanya Pegawai Negeri Sipil, tak bisa berbuat banyak, karena mamanya yang sakit-sakitan.
Ikut pertukaran pelajar, adalah jalan alternatif untuk mengurangi sedikit beban orangtuanya. Apalagi, jika dianggap sukses, proyek pertukaran pelajar itu, dilanjutkan dengan pemberian beasiswa, untuk melanjutkan kuliah gratis di Jepang. Tentu saja, Benny semakin menggila. Cita-citanya untuk kuliah di Teknik Mesin, sedikit menemui celah.
Tapi salahkah saya, bila datang menutup celah itu? Menjadi saingan tunggalnya di program pertukaran pelajar itu? Orangtuaku memang mampu membiayai kuliahku, tapi adalah kebanggaan tersendiri yang akan kupersembahkan sebagai anak kepada orangtuanya, jika saya berhasil ke Jepang.
Apalagi, orang-orang di sekitar telah menganggap keluarga kami, sebagai keluarga berantakan. Kak Intan yang bulan lalu masuk penjara karena terbukti sebagai pengguna dan pengedar drugs. Kak Farid yang kerjanya ikut balapan liar, mabuk dan terkadang tak pulang dalam sebulan. Di rumah, hanya ada saya. Belajar dan belajar, untuk membuktikan pada mama dan papa, bahwa masih ada saya yang bisa dia banggakan pada orang lain.
“Saya pulang dulu, Radar,” ucapnya. Masih gelisah.
“Tengah malam gini?”
Dia mengangguk. Gugup! Tatapannya masih menyapu sekilas di wajahku, saat dia menyerahkan STNK dan kunci motorku, yang tadi siang dipinjamnya.
“Motormu udah kumasukkan di garasi,” katanya sambil berlalu pergi.
“Sampai jumpa besok, di tempat tes.”
Langkahnya terhenti. Berbalik ke arahku, lalu mengangguk sekali. Ada kesan lirih dalam anggukan itu.
Sepulangnya, gelisah Benny, menular ke jiwaku. Saya tak bisa tidur. Di benakku, ada Benny yang akan tersenyum, meski harus terluka dengan kemenanganku besok. Seperti halnya Benny, saya juga merasa yakin bahwa saya-lah yang akan berangkat ke Jepang, mengikuti pertukaran pelajar itu. Dan Benny akan, tertinggal, bahkan tak bisa melanjutkan kuliah tahun depan setelah lulus SMA.
Saya harus mengalah! Itu yang akhirnya menjadi obat penenang jiwaku. Tak ada lagi gelisah. Saya masih punya banyak kesempatan untuk membuktikan pada orang lain, juga pada mama dan papa, bahwa saya lain dari Kak Intan ataupun Kak Farid, yang hanya bisa memberi kesusahan.
Besok pagi, saya akan sengaja terlambat ke tempat tes. Saya tahu betul, etos kerja orang Jepang, yang seolah mendewakan waktu, hingga tak senang dengan orang yang tak menghargai detak jarum detik. Ini adalah keputusan. Tak boleh berubah. Bujukku pada batinku sendiri, yang masih berat untuk menerima keputusan itu.
Besok paginya. Rencana keterlambatanku, berjalan lancar. Saya bahkan tak pernah lagi melihat wajah Benny, hingga saat ini. Saya tak pernah tiba di tempat tes. Saya tiba-tiba terkurung di dunia sepi ini. Dunia sebatas langkah gelindingan ban kursi rodaku.
Kecelakaan pagi itu, membuatku kehilangan segala harapan. Jika tak sedih melihat mama yang selalu murung, SMA-ku bahkan tak ingin kuselesaikan. Saya benar-benar tak bisa melangkah, di atas kursi rodaku. Seolah semua orang yang melihatku, mencibir dan menertawai.
“Radar, kenapa kamu nggak ikut tes? Kamu nggak apa-apa, kan? Panitia pertukaran pelajar, bekerjasama dengan pihak sekolahku, sepakat untuk langsung menerbangkanku ke Jakarta sekarang juga, untuk ikut pelatihan, bersama peserta dari provinsi lain.”
Kalimat Benny itu, kudengar saat saya masih terbaring di rumah sakit.
“Saya menabrak truk yang melintasi cepat dari arah berlawanan,” ucapku setegar mungkin, agar dia tak gelisah memikirkanku. ”Tapi nggak terlalu parah,” lanjutku dengan air mata yang menitik, saat seorang perawat datang membawakan kursi roda untuk tubuhku yang sebelah tungkai kakinya telah diamputasi.
Tak ada kalimat dari Benny. Bisu. Entah siapa, saya atau dia yang duluan meletakkan horn telepon. Hingga saat itu, saya kehilangan asa. Trauma. Motor yang kupakai saat kecelakaan pun, kurelakan jadi besi tua di kantor polisi.
Tapi mengapa Benny tak juga datang, hingga kini? Saya ingin melihat dia menangis melihat keadaanku. Padanya, saya akan berbagi duka tanpa ragu dia akan menertawaiku. Untuknya, saya akan persembahkan kado termahal, yakni kesediaanku untuk mengalah saat ikut seleksi pertukaran pelajar dulu. Meski akhirnya nasib buruk memaksaku untuk harus tetap tinggal di Makassar.
***
Saya mulai jenuh menunggu kedatangan Benny. Berlembar-lembar suratnya, yang bercerita tentang Negeri Sakura, telah berkali-kali kubaca. Demi sedikit mengobati rinduku yang memuncak sejak dua bulan lalu. Sejak dia berjanji akan pulang di liburan musim dingin.
“Betul ini rumah Pak Galang Wijaya?”
Saya mengangguk lemah. Polisi datang lagi ke rumah. Tetangga pasti pada mencibir lagi. Jangan-jangan Kak Farid lagi yang membuat masalah di luar, dan harus berurusan dengan polisi. Untung saja, mama dan papa, tak ada di rumah. Saya kasihan melihat mama yang seolah trauma dengan polisi. Harapanku untuk membuat dia tersenyum bangga dengan kesuksesanku, harus berakhir kecewa di atas kursi roda.
Kedua polisi itu mengamati kursi rodaku, juga kakiku yang tak sama panjang. Saya jadi tersinggung dengan tatapan itu. Tapi saya bisanya apa? Rasa tak percaya diriku, kumat lagi.
“Atau kamu putra Pak Galang yang kecelakaan beberapa bulan lalu. Radar?”
Saya mengangguk.
“Kami yang menangani masalah Adik.”
“Masalah apa? Papa telah menyelesaikan semua kewajiban mengenai peristiwa kecelakaan itu. Tentang motorku yang belum juga diambil, saya yang melarangnya…”
“Itulah masalahnya,” salah seorang dari polisi itu, langsung memotong kalimatku. “Dari penyelidikan kami, motor yang Adik pakai, sebelumnya sengaja dirusak dengan memutuskan tali rem. Peristiwa itu bukan murni kecelakaan, ada seseorang yang mendalanginya.”
Dadaku berdebar tak karuan. Bayangan Benny yang selalu hadir sebagai sahabat sejati untukku, kini hadir sebagai malaikat maut. Inikah jawaban dari gelisahnya, semalam sebelum kejadian itu? Inikah alamat dari firasat buruk yang selalu kuterka dari tatapannya? Inikah gunanya sahabat? Kesedihan menjalar bebas masuk ke relung hatiku. Ini sedih yang terdalam, luka yang terperih. Lebih dalam dan jauh lebih perih, dibanding saat pertama kutahu, sebelah tungkai kakiku telah teramputasi.
“Papa dan mama saya nggak ada di rumah,” ucapku lalu langsung berbalik dengan kursi rodaku.
Ada perih mengiris, saat mataku terhalang kabut, memandangi kursi roda yang kutumpangi. Kursi roda ini, kado termahal dari seorang sahabat bernama Benny. Kado ini takkan kulupa, diberikan padaku demi kebahagiaannya. Lebih mahal dari harga kematian.
Harga mati untuk takdirku. ***

Cerita pagi


Oleh : S. Gegge Mappangewa
Mata Imah terbelalak. Terlebih saat ceritaku berlanjut tentang Mama Denny, tanteku, adik ibuku! Yang seolah tak ingin memandang ke arahku. Mama yang berkunjung ke rumahnya, disangkanya buat ngutang karena tiba saatnya untuk bayar uang sekolahku. Aku yang berkunjung ke sana, dipikirnya minta baju bekas yang mungkin sudah tak layak pakai buat dia. Padahal, maksud kami bukan itu. Kami hanya merasa sebagai bagian dari keluarga mereka.
MASIH pagi. Perasaan aku baru memejamkan mata semenit, setelah bangun shalat subuh tadi. Aku bahkan tertidur dengan mukenah yang masih melekat di tubuhku. Biasanya suara gaduh terdengar di pondokan ini, setelah lewat dari jam enam. Tapi kini, pintuku telah diketuk perlahan awalnya, lalu digedor keras.
“Assalamualaikum! Selamat pagi!” teriak suara itu dari luar.
Aku kenal betul suara itu. Milik Imah, penghuni pondokan yang paling ribut, paling seksi, paling lucu, dan entah paling apalagi. Pagi-pagi begini mau apa, ya? Aku bahkan menutup kupingku dengan guling. Gedoran itu semakin tak wajar. Ada lagi yang paling khas dari diri Imah, dia selalu merasa punya ide yang heboh. Jangan-jangan pagi ini dia ingin unjuk kebolehan dengan ide hebohnya yang terbaru.
Terpaksa aku bangun. Padahal tidur pagi kali ini amat kubutuhkan sebagai suplemen, semalam tidurku agak larut malam karena PR Fisika-ku yang tumben tak bisa kuselesaikan cepat.
“Selamat pagi,” ributnya setelah kubukakan pintu kamar. “Aku dari Ketok Pintu, acara reality show paling berani! Bisa ya, aku masuk?” lanjutnya dengan gaya host sebuah acara reality show, yang selalu “mengobrak-abrik” kamar selebritis.
Buset! Betul-betul cuma iseng, tak ada keperluan apapun! Aku cuma nyengir, lalu kembali membuang tubuhku di tempat tidur.
“Pemirsa, aku udah berhasil masuk ke kamar Lely. Yuk, kita lihat setiap penjuru kamar bintang sinetron yang lagi naik pohon ini, eh naik daun,”
“Nggak lucu!” ketusku sambil menutup telinga dengan guling.
Imah tetap beraksi. Kudengar dia ceplas-ceplos, menerangkan seluruh isi kamarku. Mulai dari meja belajar yang berdampingan dengan lemari pakaian yang katanya, terlalu kecil untuk siswa SMA sepertiku. Meski kesal, aku kagum juga dengan ceplas-ceplosnya yang persis dengan presenter Okky Lukman.
“Pemirsa di rumah, mau tahu apa aja isi lemari Lely? Yuk, kita buka!”
Kudengar engsel pintu lemariku berderit. Tapi aku belum juga menggubrisnya. Toh, tak ada barang rahasia di dalamnya.
“Woooww…!” Tiba-tiba dia berteriak. Memaksaku untuk bangkit dari tempat tidur. Dompetku sudah ada berada di tangannya.
“Jangan dibuka, Mah!”
“Ternyata isinya, ada kartu perpustakaan sekolah, kartu perpustakaan wilayah, kartu member taman bacaan. Nggak salah deh kalo Si Lely ini jadi bintang pelajar tiap tahunnya. Tapi jangan salah, kartu ATM tetap ada lho!”
Aku tak bisa menghalangi aksinya, dia selalu berhasil menghindar setiap aku mendekat untuk mengambil dompetku.
“Dan pemirsa di rumah,” ucapnya seolah menghadap ke sebuah kamera. “Ternyata Lely bintang pelajar kita ini, fans berat sama Denny. Itu lho, pendatang baru di dunia sinetron.” lanjutnya sambil memperlihatkan foto Denny yang memang sengaja kusimpan di dompetku.
Melihat foto Denny, air mataku tiba-tiba meluruh begitu saja. Imah langsung menghentikan aksinya. Bahkan mendekat ke arahku dengan wajah yang menampakkan penyesalan yang mendalam.
“Sori, Ly! Aku cuma main-main. Nggak bermaksud melanggar privacy kamu. Lagian, nge-fans sama Denny, menurutku hal yang wajar. Denny bintang sinetron, cakep, tajir. Yang nggak wajar, kalau orang seperti kita ini mimpi jadi pacarnya, atau malah teman dekatnya!”
Aku menghapus air mataku. Mengambil dompetku dari tangan Imah.
“Kamu mau maafin aku kan?”
Imah tak punya salah, aku yang terlalu cengeng mungkin. Tapi aku janji, ini air mata terakhirku untuk Denny. Meski aku juga merasa punya quantum semangat beberapa kali lipat, setiap habis melihat foto Denny.
“Jujur, akhir-akhir ini aku ingin dekat sama kamu, tapi aku nggak tahu bagaimana caranya,” ungkapnya lagi.
Aku bisa mengerti, jika Imah ataupun teman kostku yang lain tak punya banyak waktu untuk bersamaku. Hampir seluruh waktuku yang di luar jam sekolah, kuhabiskan bersama buku-buku pelajaranku. Aku tak punya waktu untuk ngerumpi, apalagi nongkrong di teras untuk cuci mata setiap ada cowok lewat. Aku selalu merasa lebih aman di kamar sendiri.
Untungnya sikap dinginku itu tidak diartikan negatif teman-teman. Mungkin karena aku tetap menyempatkan diri untuk senyum, menyapa, bahkan dengan senang hati membantu mereka menyelesaikan tugas-tugas dari sekolah. Jadi tidak sedikit pun ada kesan sombong yang kutampakkan, dan memang aku bukan orang seperti itu. Aku bahkan membenci orang-orang yang merasa dirinya punya segala-galanya, lalu menyombongkan diri.
Apalagi, alasanku cukup meyakinkan, aku harus belajar. Lebih banyak belajar! Dan alasan itu punya hasil yang memuaskan, medali bintang pelajar tetap bisa kupertahankan.
“Ly, boleh kan aku curhat ke kamu?”
Belum juga kuiyakan permintaannya, dia sudah bertutur panjang. Mulai dari cowoknya yang tiba-tiba minta putus, hingga hubungan mama-papanya, yang sedang kacau.
“Di rumah nggak ada kedamaian, Ly! Kamu mungkin nggak tahu, aku ngekost di sini, bukan untuk hemat biaya transpor atau karena jauh dari kampung. Aku orang Jakarta asli. Rumahku di Pondok Indah. Aku ngekost di sini, karena ingin lebih dekat dengan orang lain. Punya banyak teman. Ingin berbagi!”
Aku mungkin terlalu egois selama ini. Tak pernah mau berpikir tentang orang sekitarku. Tanpa kusadari, Imah butuh teman dan selama ini aku lebih akrab dengaan diriku sendiri, dengan permasalahanku sendiri, tanpa pernah berniat untuk membaginya, ataupun meminta orang untuk membagi kesedihannya padaku.
Aku terjaga kini, menerima kesedihan orang lain, bukan menambah beban tapi justru meringankan karena ternyata menyadarkanku bahwa semua orang punya masalah. Aku ingin meraih pundak Imah, untuk berbagi, tapi suara dari luar kamar meneriakkan namaku. Aku dapat telpon dari Denny.
“Denny siapa, Ly!”
“Denny bintang sinetron itu,” ucapku santai.
“Dia nelpon kamu?” tanyanya heran.
Aku mengangguk, lalu berlari keluar, meninggalkan dia dalam keadaan bingung. Aku memang tak pernah cerita tentang Denny. Aku masih lebih suka menyimpannya sendiri, dan menyimpannya sebagai semangat untukku.
“Ada perlu apa Denny nelpon kamu?” tanyanya saat aku pulang dari menerima telepon.
“Dia ngajak aku buat temanin belanja. Adiknya yang cewek, yang baru aja lolos audisi jadi penyanyi beken, juga ikut!”
“Kalian akrab?” Imah semakin bingung.
Akrab? Aku juga bingung mau jawab apa. Haruskah aku jujur tentang Denny? Harusnya begitu, Imah baru saja menceritakan masalahnya untukku, kini giliranku.
“Denny itu saudara sepupuku….”
Mata Imah terbelalak. Terlebih saat ceritaku berlanjut tentang Mama Denny, tanteku, adik ibuku! Yang seolah tak ingin memandang ke arahku. Mama yang berkunjung ke rumahnya, disangkanya buat ngutang karena tiba saatnya untuk bayar uang sekolahku. Aku yang berkunjung ke sana, dipikirnya minta baju bekas yang mungkin sudah tak layak pakai buat dia. Padahal, maksud kami bukan itu. Kami hanya merasa sebagai bagian dari keluarga mereka.

“Tapi kok, Denny dan adiknya menelpon kamu untuk menemaninya belanja?”
“Karena mereka mau memperlihatkan bagaimana bebasnya mereka memakai uang.”
Bukan sekali aku diajak untuk menemani mereka belanja. Tidak tanggung-tanggung, mereka beli baju lima pasang saat kutemani belanja. Tidak pernah sekali pun menawarkan sepasang untukku, meskipun sebenarnya aku tidak berminat. Sebagai upah menemani jalan, aku terkadang dibekali roti bakar yang dibelinya di kaki lima. Seolah menurutnya, sepupu dengan mereka yang selebritis, sudah anugerah besar untukku.
“Tapi kenapa kamu mau menyimpan foto Denny dalam dompetmu?”
Bukan untuk kubanggakan, bahwa aku ini sepupunya. Tapi untuk memberiku semangat. Setiap melihat fotonya, aku selalu terpacu untuk menjadi yang terbaik. Aku tak boleh terus-terusan dianggapnya sampah. Aku harus mengangkat diriku sendiri! Aku yakin, untuk menjadi orang yang dibanggakan, diidolakan, tidak harus dengan menjadi selebritis.
Imah manggut-manggut. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya saat meninggalkan kamarku. Tapi tak lama kemudian, dia datang lagi.
“Aku pamit dulu, Ly! Aku tiba-tiba rindu pada Mama dan Papaku. Aku nggak boleh lari dari masalah. Aku harus punya semangat untuk menghadapinya, menyelesaikannya! Aku bangga pada kamu, Lily. Aku mengidolakanmu!” ucapnya dalam pelukku. Menangis!
Aku ikut menangis. Mungkin aku telah menjelek-jelekkan Denny, tapi itulah yang terjadi, itulah yang dia perlakukan untukku. Kusimpan menjadi obat pemacu semangat. Tanpa dendam, tanpa benci!***


Menantang Andrea Hirata


MENANTANG ANDREA HIRATA
Saya punya banyak koleksi buku yang lembar pertamanya ditandatangani oleh penulisnya. Mulai dari penulis-penulis teman FLP hingga buku Serial Cinta Anis Matta. Tapi usai membaca Maryama Karpoov, saya tidak pernah kepikiran untuk memburu tanda tangan Andrea Hirata. Halaman pertama yang biasa kupakai untuk meminta tanda tangan penulis, malah kuisi dengan tanda tanganku. Ya, tanda tanganku! Tapi di atas tanda tangan itu kutulis sebuah catatan untuk Andrea Hirata: Ayahku jauh lebih hebat, Boy! Paling hebat sedunia! Ya, kutulis seperti itu karena saya iri dengan Andrea Hirata yang banyak mengangkat ayahnya di Maryamah Karpoov.
Tapi sekali lagi, ayahku jauh lebih hebat dari ayah Andrea Hirata. Akan kuceritakan kehebatan ayahku yang baru saja kulalui bersamanya. Bukan narsis, cuma ingin membuktikan bahwa ayahku benar-benar hebat! Sekali lagi, Paling hebat sedunia!
Kuawali ceritaku dengan menuliskan profesinya. Ayahku petani. Sebenarnya dia sudah pernah ‘pensiun’ dari profesinya itu. Tinggal di rumah, mengaji, menemani cucunya (anak dari kakak), dan tak lupa ke mesjid salat berjamaah. Aku sendiri tak tahu berapa umur ayah sebenarnya. Yang jelas sudah tua. Mungkin lebih tepatnya disebut renta. Gaji ‘pensiunnya’ sudah tentu dari ketujuh anaknya yang semuanya sudah bekerja, ditambah dengan hasil pertanian yang didapatkan dari orang yang menggarap sawahnya. Di bawah rumah panggung kami, tak pernah kosong dari tumpukan gabah. Tak pernah kurang dari sepuluh karung hingga masa panen tiba lagi.
Musim tanam kali ini, ayah turun sawah lagi. Dia ingin menggarap sendiri sawahnya. Meski semua anaknya melarang. Ayah tetap keukeuh untuk kerja sawah lagi. Saat melewati musim tanam, kakak saya sakit. Cukup parah, hingga harus dibawa ke rumah sakit. Baru beberapa hari di rumah sakit, ayah dapat kabar lagi dari Palu, Sulawesi Tengah, kalau adiknya (paman saya) sakit parah dan masuk rumah sakit. Di luar dugaan, ayah memilih meninggalkan sawahnya yang sedang antri menunggu untuk dialiri air dari pengusaha yang biasanya memompakan air dari sungai kampung, juga meninggalkan anaknya yang sedang terbaring berjuntaian selang infus rumah sakit.
Itu masih hal kecil untuk dianggap sebagai ayah yang hebat? Cerita memang belum berakhir. Sebagai petani, apalagi di kampung, ayah juga adalah petani yang buta bahasa. Bahasa Indonesia ayah pas-pasan. Saat bicara, bahasa Indonesia ayah terpatah-patah, sangat-sangat pasif! Meskipun bisa membaca, itu pun tersendat-sendat. Maklum, ayahku tak tamat SD. Hebatnya, begitu mendengar kabar adiknya sakit di Palu, dia tak berpikir dua kali untuk datang menemuinya. Padahal begitu banyak sebenarnya yang harus dipertimbangkan. Sawahnya yang sedang menunggu air, anaknya yang sedang di rumah sakit, perjalanan dari kampungku ke Makassar yang butuh waktu empat jam perjalanan bis cepat. Padahal, setiap naik mobil ayah pasti mabok perjalanan hingga muntah. Dan terlebih yang harus dia pertimbangkan, dia buta bahasa, bagaimana mungkin dia masuk bandara internasional Sultan Hasanuddin? Tapi sekali lagi, dia sangat hebat!
***
Di Bandara Sultan Hasanuddin, kulihat duduknya gelisah. Aku berusaha menenangkannya. Aku juga sempat mati akal. Bagaimana ayah yang buta bahasa bisa masuk untuk memeriksakan tiketnya. Dia memang sering ke Palu dengan pesawat, tapi selalu ditemani salah seorang anaknya. Untungnya, aku punya kenalan cleaning service di bandara. Dengan minta bantuan ke dia, ayah bisa bernapas lega untuk masuk checkin. Sehabis checkin, ayah kembali ke teras bandara. Duduknya sangat gelisah. Berkali-kali kutenangkan dengan kalimat bahwa jika pesawatnya akan berangkat, kenalan saya yang cleaning service akan datang menjemputnya. Saya memang tak mau kalau ayah menunggu di waiting room penumpang. Takutnya, begitu penumpang yang lain beranjak ke pesawat, dia ikut beranjak, padahal bukan pesawat ke Palu. Bahkan nomor kursinya pun dia tak tahu.
Beberapa menit sebelum pesawatnya boarding, kenalan saya yang cleaning service datang menjemputnya. Kucium tangannya! Selamat berjuang, Ayah! Dia sangat ragu, dia bahkan memintaku untuk membayar security, asalkan security loloskan saya masuk untuk mengantarnya masuk ke kabin pesawat. Tapi tentu saja itu tak mungkin.
Ada haru sekaligus bangga pada ayah. Tanpa pernah dia sadari, dia yang buta bahasa, telah melahirkan tujuh orang anak. Tiga di antaranya adalah sarjana sastra. Dan saya sendiri adalah sarjana teknik, meskipun bukan sarjana sastra tapi saya adalah penulis yang telah beberapa kali menang lomba menulis tingkat nasional, punya beberapa buku, semua kampus di Makassar, bahkan hampir semua kabupaten di Sulawesi Selatan telah kudatangi untuk memberikan materi kepenulisan. Dan ayah yang buta bahasa itu, tak sadar jika dia adalah ayah dari seorang penulis. Ayah dari tiga orang sarjana sastra. Dia hanya sadar, bahwa dia harus pergi menemui adiknya yang sakit di Palu.
Lalu bagaimana dengan saya? Hanya karena sibuk mengajar, kakakku yang masuk rumah sakit di kampung, yang untuk menemuinya hanya dengan perjalanan empat jam bis cepat, tak sempat pulang untuk membesuknya. Satu lagi pelajaran berharga yang ayah didikkan untukku! Jauh sebelum pelajaran ini dia antarkan untukku, telah kutulis di lembaran pertama buku Maryamah Karpoov: Ayahku jauh lebih hebat, Boy! Paling hebat sedunia! Dan lagi-lagi ayah membuktikan di bandara Sultan Hasanuddin malam itu, jika dia memang lebih hebat dari ayah Andrea Hirata!***


Rabu, 03 Juni 2009

sahabat-sahabat yang pergi


Oleh : S. Gegge Mappangewa
Kali ini, aku akan bercerita tentang kota yang selama ini menjadi persinggahanku. Sekitar lima kilometer sebelum memasuki kota Barru. Aku selalu singgah di sini, karena hasil ‘perhitungan’ spidometerku, daerah ini adalah median jarak yang harus kutempuh. Bagiku, kota yang paling membosankan setiap perjalanan pulangku adalah Barru. Terlalu panjang! Tapi kali ini, tak begitu panjang. Entah berawal dari mana, satu per satu sahabat yang pernah ada di kota Barru ini bermunculan menemani perjalananku.
Sehari setelah nyontreng, pagi-pagi sekali, aku bergegas pulang. Rindu pada ayah dan ibu memuncak untuk ditunaikan. Entah, apa namanya. Kekanak-kanakkan, cengeng, atau entah …. Aku tak pernah bisa bertahan di Makassar dua bulan, tanpa pulang menemui ayah dan ibu. Padahal, komunikasi lewat telepon tak pernah putus. Kali ini, Pemilu yang memberiku kesempatan pulang.
Seperti biasa, Honda yang kutunggangi tak hanya mengantarku tiba di pelukan rindu ayah dan ibu, juga selalu mengantarku ke lorong masa lalu dan melambungkanku ke mimpi masa depan. Sepanjang perjalanan juga akan menjadi lintasan muhasabah. Makassar – Sidrap, aku butuh waktu lebih kurang lima jam perjalanan, bahkan terkadang lebih karena hampir di setiap perjalanan pulangku, aku selalu menyempatkan untuk singgah shalat sekaligus tidur.
Kali ini, aku akan bercerita tentang kota yang selama ini menjadi persinggahanku. Sekitar lima kilometer sebelum memasuki kota Barru. Aku selalu singgah di sini, karena hasil ‘perhitungan’ spidometerku, daerah ini adalah median jarak yang harus kutempuh. Bagiku, kota yang paling membosankan setiap perjalanan pulangku adalah Barru. Terlalu panjang! Tapi kali ini, tak begitu panjang. Entah berawal dari mana, satu per satu sahabat yang pernah ada di kota Barru ini bermunculan menemani perjalananku.
Sahabat pertama yang muncul adalah sosok yang pernah muncul dalam hari-hariku saat masih kuliah dulu. Kami satu kosan. Meski tak terlalu akrab, mungkin sudah dikategorikan sebagai sahabat. Sukri namanya. Asli Barru! Orangnya rame. Suka bercanda. Bahkan candanya terkadang keterlaluan. Entah berapa menit, kenangan bersamanya melintas di benakku. Dan saat kenangan bersamanya berkelebat, teriring doa tulus untuknya. Doa ketenangan sekaligus kesejukan pada raganya yang kuyakin hanya tersisa tulang berserakan, tapi ruhnya akan tetap terhimpit bumi. Dia pergi secara tragis dalam sebuah kecelakaan yang meremukkan seluruh tubuhnya hingga tubuh itu bermandikan darahnya sendiri.
Terlalu tragis! Aku berusaha membuang kenangan itu. Menyeramkan untuk dikenang, apalagi sekarang aku pun sedang mengendarai motor. Dulu Sukri kecelakaan saat pulang kampung dengan mengendarai motor, sama dengan yang kulakukan saat ini. Sekali lagi, bayangan itu kutepis. Dan saat layar memoriku berganti, seorang cewek bermata lembut mengganti sosok Sukri di ingatanku. Seperti halnya Sukri, dia juga asli Barru. Aku mengenalnya saat pembekalan KKN. Kami satu kecamatan. Seniorku di Teknik yang memperkenalkan cewek berkulit putih lembut itu padaku. Dari tuturnya, kucoba menerka bahwa dia cewek yang juga berhati lembut.
Awalnya perkenalan itu ‘kuanginlalukan’ saja. Tapi dalam perjalanan ke Enrekang (lokasi KKN), ban mobil kempes. Kami turun istirahat. Dia datang menyodorkan kacang untukku. Kami menikmatinya tanpa suara hingga bis berangkat lagi.
Kedekatan kami akhirnya berubah menjadi sahabat ketika teman seposko di lokasi KKN, ternyata akrab dengan cewek itu karena satu fakultas di Ekonomi. Hingga suatu kesempatan, posko lagi sepi, dia transit di poskoku. Teman seposkoku lagi ke kota kabupaten. Sambil menunggu kendaraan yang akan ke poskonya, kami bercerita. Aku sudah lupa apa yang kami cerita. Tak ada yang istimewa. Tapi dari perbincangan kami, kutahu kalau senior yang memperkenalkannya padaku di acara pembekalan KKN adalah pacarnya. Tapi dari tatapannya, kutahu jika dia menyimpan sesuatu. Dan rahasia itu terbongkar saat seorang cowok, teman seposkonya datang menjemput. Aku berkesimpulan, mereka terjangkit virus cinta lokasi.
Persahabatan kami ternyata tak terputus meski KKN berakhir. Biasa bertemu di kampus, bahkan terkadang bertemu di rumah teman seposkoku yang sudah akrab duluan dengannya karena satu fakultas sekaligus bahkan program studi.
Ijinkan aku merahasiakan nama sahabatku itu.
Sahabat itu ternyata punya nasib cemerlang. Tak perlu susah payah cari kerja setelah wisuda, dia diterima kerja di sebuah perusahaan bonafid di Makassar. Jodohnya pun berkilau. Belum setahun kerja dia dilamar, dijodohkan tepatnya dengan seorang pengusaha. Tapi ternyata dia tak bisa menerima itu. Virus cinta lokasi yang menjangkitinya tak bisa dia jinakkan. Bahkan seniorku pun dia tepis. Tapi siapa yang bisa menolak jodoh? Pengusaha itu adalah jodohnya! Dan mereka harus menikah. Meski di malam pertamanya, dia melarikan diri dari rumah. Berlari mencari lelaki yang pernah menyuntikkan virus cinta lokasi untuknya.
Berlari dia menjauh. Sejauh mungkin. Tapi kaki tangan suaminya dapat menemukan dia di tempat persembunyiannya. Tapi itu belum berakhir. Hanya beberapa hari bermuka manis di depan suaminya, dia menghilang lagi.
Dan siapa sangka, itu adalah kepergiannya yang terakhir. Dia tak pernah kembali lagi. Dia pulang. Terakhir kudapatkan dia tergeletak, tak berdaya di ruangan rumah sakit. Aku dan teman KKN menEmukannya setelah seseorang menelpon kami untuk ke rumah sakit. Malam itu juga, persahabatan kami berakhir. Dia benar-benar pulang bersama lever yang menyerangnya. Dan perjalanan Sidrap - Makassar kali ini, tepat di Kabupaten Barru, kukenang sekaligus kukirim doa untuknya.
Sidrap masih jauh. Masih di Barru. Dua sahabat yang pergi itu membuatku terjaga, kapan giliranku? Kucoba mencari sahabat di Barru yang pernah hadir di masa lalu, tapi cepat kutepis. Cerita yang akan muncul jauh lebih tragis dari kisah Sukri dan cewek bermata lembut itu. Tapi sahabat-sahabat yang pergi itu sedikit menguatkanku, tak ada kisah yang kekal. Semua akan ber-ending…. ***

sekolah kundang


Oleh : S. Gegge Mappangewa
Sekali lagi, mungkin karena ini panggilan jiwa. Ada kebesaran jiwa dan kesabaran hati saat menghadapi murid-muridku di SD Kecil, yang tentu saja cerdasnya jauh tertinggal dibanding dengan murid-muridku di SD swasta tempatku mengajar di Makassar. Dalam dua bulan, seingatku aku tak pernah jengkel apalagi sampai marah dan memberi hukuman fisik. Tapi di Makassar, hampir tiap hari bahkan mungkin aku sudah marah memang sebelum masuk kelas. Kalaupun aku tak pernah memberi hukuman fisik, itu karena perlakuan orangtua murid yang terkadang anaknya hanya dipelototi karena kesalahannya, sudah komplain ke sekolah.

TATAPANNYA melarangku pergi. Biasnya jauh berbeda dengan tatapannya dua bulan lalu, saat aku berdiri di depan kelasnya yang berdindingkan papan lapuk, untuk memperkenalkan diri sebagai guru baru. Beberapa bangku dan meja hampir senasib dengan dindingnya. Sebagian tripleks papan tulisnya pun telah terkelupas. Untung ada gambar Sultan Hasanuddin dan Cut Nyak Dien yang menghiasi dinding, hingga kelas itu sedikit berbeda dengan gudang. Pemandangan itu akan kutinggal kini.
”Jangan pergi, Kak!” Bukan hanya tatapan. Kini hatinya kudengar merintih. Meski bibirnya takkan pernah sanggup mengucapkan kalimat itu untukku.
Di luar rumah mulai ramai. Murid-muridku yang tak lebih dari tiga puluh orang dari tiga kelas yang tersedia di sekolahnya, seolah tak ingin kehilangan kesempatan untuk melepas kepergianku. Kuraih jas almamater, lalu keluar menemuinya. Rustan, yang tatapan dan lirih hatinya dari tadi melarangku untuk pergi, mengikuti langkahku dari belakang.
”Kak Galang...!” teriak mereka dari depan tangga rumah panggung.
Aku berdiri di puncak tangga. Bukan hanya murid-muridku yang datang, tapi juga orangtuanya, beserta oleh-oleh untukku. Bawang merah, kol, kentang, wortel, dan banyak lagi jenis sayuran lain. Telah berdiri satu karung penuh isi, masih tersisa beberapa sayuran lagi yang belum masuk dalam karung. Kutatap satu per satu. Dua puluh tujuh orang. Semua hadir untuk melepas kepergianku.
”Kak Galang, jangan lupakan kami ya!” Rustan berucap dari belakangku.
Mereka memang memanggil kakak padaku. Aku tak mengajarnya memanggil pak guru. Aku ingin memasuki hati mereka tanpa ada batas. Ada kasihan yang mendarahkan perasaanku saat pertama menemukan mereka di kelas yang gaduh karena tak ada guru. Di sebuah dusun terpencil. Di antara perkebunan kopi dan ladang bawang. Di antara harapan mereka untuk menjadi manusia seutuhnya.
Awalnya aku bergidik membayangkan saat harus ditugaskan di sana. Di sebuah SD Kecil. Kecil karena muridnya hanya kelas satu hingga kelas tiga. Setelah naik kelas empat mereka akan dipindahkan ke satu-satunya sekolah negeri yang ada di Tongko, desa induk. Sekolah ini dibangun karena anak kelas satu hingga kelas tiga masih terlalu kecil untuk menenteng tas menyelusuri bukit, menyeberangi sungai, berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju sekolah satu-satunya yang ada di Tongko. Kalimbua nama dusun ini. Aku rela berpisah dengan teman KKN yang berposko di Tongko setelah mendengar cerita kepala desa tentang SD Kecil yang lebih banyak belajar bermain. Bukan metode active learning, tapi bermain sendiri tanpa guru.
Mungkin inilah yang disebut panggilan jiwa. Selain rela berpisah dengan teman-teman posko, tentu saja aku rela jadi guru tanpa bayaran. Padahal di Makassar, di tempatku mengajar, aku hanya berpredikat guru freelance karena masih harus sibuk dengan kuliah, tapi saat datang mengajukan lamaran sebagai guru Writing Process, aku tak segan-segan menyebut angka gaji yang kuinginkan. Pikirku, semua harus dibeli. Meskipun aku bukan mahasiswa kependidikan yang berbekal ilmu keguruan, tapi pengalamanku sebagai penulis yang harus dibayar.
Sekali lagi, mungkin karena ini panggilan jiwa. Ada kebesaran jiwa dan kesabaran hati saat menghadapi murid-muridku di SD Kecil, yang tentu saja cerdasnya jauh tertinggal dibanding dengan murid-muridku di SD swasta tempatku mengajar di Makassar. Dalam dua bulan, seingatku aku tak pernah jengkel apalagi sampai marah dan memberi hukuman fisik. Tapi di Makassar, hampir tiap hari bahkan mungkin aku sudah marah memang sebelum masuk kelas. Kalaupun aku tak pernah memberi hukuman fisik, itu karena perlakuan orangtua murid yang terkadang anaknya hanya dipelototi karena kesalahannya, sudah komplain ke sekolah.
Perbedaan yang sangat jauh. Di kota, orangtua menyambut anaknya pulang sekolah tidak dengan pertanyaan, ”Belajar apa tadi di sekolah, Nak?” tapi ”Guru siapa yang tadi menghukummu, Nak?” Sementara di kampung, orangtua murid yang datang sekolah yang meminta anaknya dihukum bila tidak taat peraturan sekolah apalagi tidak mau belajar.
”Kak Galang, kemarin saya demam. Nggak masuk sekolah. Padahal kemarin belajar bilangan ganjil dan genap. Saya tertinggal dong!” ucap Nuraeni.
Aku menuruni tangga setelah beberapa lama membiarkan diri dengan lamunanku. Semua oleh-oleh telah dikemas dalam karung. Tiga karung setengah. Tiga karung sayur-mayur dan setengahnya adalah buah alpukat dan segala macam kopi. Biji kopi yang belum digiling tapi sudah dipanggang, kopi bubuk, bahkan ada biji kopi yang masih harus dijemur lagi karena baru dipetik kemarin. Seolah tak ada yang tak mau memberiku oleh-oleh, tanpa pernah berpikir kalau aku tak tahu bagaimana menjemur kopi, apalagi mengelolanya hingga menjadi kopi bubuk.
”Sangat mudah membedakan bilangan ganjil dan genap,” tatapannya sangat senang menerima pelajaran tambahan itu.
Aku lalu memberi privat pada Nuraeni. Menyuruhnya menghitung dengan sepuluh jari tangan. Hitungan pertama dengan telunjuk kanan, hitungan kedua pindah ke telunjuk kiri, lalu jari tengah kanan di hitungan ketiga, begitu seterusnya hingga berakhir di ibu jari kiri di hitungan kesepuluh.
”Sekarang menghitung sampai tujuh dengan cara seperti tadi!”
Nuraeni dengan cepat menghitung sambil menaikkan jari kanan dan jari kiri secara bergantian. Tepat di hitungan ketujuh, tangan kanannya menampilkan empat jari kecuali ibu jari, dan tangan kirinya dengan tiga jari.
”Sekarang pasangkan jari-jari yang kanan dengan yang kiri!”
”Jari kelingking kanan nggak ada pasangannya, Kak!” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan jari kelingkingnya.
”Itu berarti angka tujuh adalah bilangan ganjil, karena salah satu jari kamu nggak punya pasangan. Kalo semua jari punya pasangan, berarti itu bilangan genap.”
”Tapi jari saya cuma sepuluh. Kalo angkanya 38, gimana?”
”Ambil angka yang terakhir, yaitu delapan!”
Dia kemudian menghitung dengan metode seperti yang kuajarkan. Saat tiba di hitungan kedelapan, di mana tangan kanan dan tangan kirinya menampilkan masing-masing empat jari, kecuali ibu jari, dia memasangkan jari-jari tersebut.
”Semua ada pasangannya. Berarti 38 itu bilangan genap!” ucapnya.
Dalam lima menit, Nuraeni telah bisa membedakan bilangan ganjil dan bilangan genap. Cara seperti itu sebenarnya tak pernah kudapatkan di bangku sekolah, tapi dulu diajarkan oleh mama saat menemaniku belajar. Mama memang cerdas, selalu mencari cara cepat saat mengajarku di rumah. Padahal mama bukanlah guru, tapi tentu saja tetaplah pendidik bagi aku, anaknya.
”Sudah pukul sebelas!” ucap salah seorang dari orangtua murid.
Aku terjaga. Hari ini aku sudah harus di Tongko sebelum ashar, karena penutupan sekaligus pelepasan mahasiswa KKN akan dilaksanakan ba’da ashar di kecamatan. Intania, murid kelas satu yang selalu terlambat datang ke sekolah karena rumahnya yang jauh dari sekolah, sudah memperlihatkan kelopak mata yang penuh dengan air mata. Tapi belum menangis.
”Kalo Kak Galang mau tinggal di sini, saya nggak akan terlambat lagi ke sekolah. Saya janji akan berangkat subuh-subuh ke sekolah.”
Kantong air mata yang dari tadi dipertahankan keutuhannya, bocor kini. Rupanya masih ada bagian dari negeri ini, di mana ilmu masih sangat langka, yang untuk mendapatkannya haruslah mengemis, menangis, seperti yang dilakukan Intania untukku. Padahal Kalimbua bukanlah suku terpinggirkan. Hanya butuh perjalanan lima jam untuk tiba di desa induk. Dan dari desa induk, hanya butuh dua jam untuk tiba di kota kecamatan. Pasar-pasar di Makassar, hampir semuanya mensuplai sayuran dari sini untuk kemudian dijual, bahkan pasarannya hingga ke Kalimantan. Tak cukup sepuluh kilometer dari kota kecamatan, berdiri gapura batas kabupaten, yang bertuliskan ”Selamat Datang Di Tana Toraja” daerah wisata yang terkenal hingga ke mancanegara. Tapi SD Kecil Kalimbua tak pernah dilirik.
Akan kuceritakan pada siapa pun bahwa kebanggaan yang paling luar biasa bagi seseorang adalah saat dia begitu berarti bagi orang lain. Tapi kenapa SD Kecil ini sering ditinggalkan oleh gurunya? Akhh, aku lupa suatu hal. SD Kecil ini berdiri atas swadaya masyarakat, karena keprihatinan mereka pada anaknya yang masih kecil yang tidak memungkinkan untuk pergi sekolah dengan jalan kaki.
Akhirnya niat masyarakat itu dijembatani oleh seorang guru yang kemudian mengaku sebagai pemrakarsa berdirinya SD Kecil. Saat yang tepat, karena guru tersebut memang hanya mencari popularitas untuk kemudian diprioritaskan dalam kenaikan pangkat. Pihak Diknas, menangkap itu sebagai ide cemerlang. Tapi setelah SD Kecil terbentuk, tak seperti yang diprogramkan. Tiga guru yang bertugas di sana tak ada yang betah. Tentu saja dengan alasan daerahnya yang terisolasi. Toh gaji diterima setiap awal bulan, meski mengajarnya hanya terkadang akhir bulan sampai awal bulan.
”Saatnya Kak Galang untuk berangkat!”
Aku tahu kalimatku tidak diinginkan. Semua mematung. Sementara kabut tebal yang selalu menyelimuti Kalimbua, mulai menipis pertanda pagi telah beranjak. Di dusun ini, matahari memang terkadang tak muncul berhari-hari. Hanya kabut yang setia membawa dingin. Iklim dingin seperti itu yang membuat daerah ini kaya akan sayur-sayuran. Aku memberanikan diri melangkah saat semua mematung menatapku.
”Harusnya Kak Galang tak pernah ada bersama kami.” Nuraeni mengucapkan itu dengan tangis. Dia melepaskan ayam yang terikat kakinya, yang digendongnya dari tadi, lalu berlari menumpahkan tangis di pelukan ayahnya.
Ternyata perpisahan ini terlalu melukakan baginya, hingga berpikir aku lebih baik tak pernah ada di kehidupannya daripada harus datang sesaat lalu pergi.
Kulirik jam di pergelanganku. Melihat kegelisahan itu, Rustan yang dari tadi berdiri di sampingku berlari naik ke rumah. Dia kemudian datang membawakan careel-ku. Rustan memang paling dekat dengan saya selama ini, karena selama dua bulan aku menginap di rumahnya. Mungkin karena hampir tiap malam mendengar cerita tentang kuliah dan pekerjaanku sebagai guru freelance hingga dia sangat sadar bahwa aku memang harus pergi.
”Oleh-olehnya gimana?” ucapku saat careel telah memeluk punggungku dari belakang. Ucapan yang sangat terbata, takut semakin melukai perasaan mereka. Tapi bagaimana mungkin aku membawa oleh-oleh sebanyak tiga karung setengah sementara untuk berjalan kaki tanpa beban pun menuju Tongko sangatlah berat.
”Ambil oleh-olehnya masing-masing!” perintah Rustan.
Anak ini punya bakat jadi pemimpin. Padahal dia baru kelas dua, tapi mampu membuat teman-temannya menatapnya sebagai murid paling dewasa di sekolahnya. Aku belum mengerti apa yang akan mereka lakukan. Semua isi karung itu dikeluarkan dan mereka memegang oleh-olehnya masing-masing.
”Kita antar Kak Galang sampai ke Tongko!” perintah Rustan.
”Horeee...!”
Kesedihan yang tadi membekukan, kini cair. Jadilah kami seperti rombongan karnaval. Jalan berbaris menyusuri perkebunan kopi dan ladang sayur-sayuran. Orangtua mereka ikut dari belakang, meski tak bisa ikut bernyanyi seperti yang sesekali aku lakukan bersama murid-muridku. Lima kilometer dilalui dengan tawa ceria. Berlarian. Beberapa siung bawang merah berjatuhan di pematang, saat anak yang membawanya tergelincir dan jatuh.
Teman-teman posko menyambut kedatanganku dengan mata melotot. Dia tak pernah menyangka kepergianku dilepas dengan ’karnaval’ panjang seperti itu. Tak ada lelah di mata mereka. Keceriaan tadi berganti lagi dengan kesedihan. Apalagi bis yang akan membawa kami pergi telah parkir di depan rumah kepala desa.
Di antara sedih, dibantu orangtuanya, mereka memasukkan kembali oleh-oleh itu ke dalam karung. Nuraeni menyerahkan langsung ayamnya padaku, tentu saja diiringi air mata. Teman-teman posko yang hendak usil dengan mengomentari ayam pemberian itu, jadi kelu. Isak Nuraeni pecah. Aku memeluknya. Kabut datang menyelimuti Tongko, seolah ingin menyembunyikan air mataku.
Tak hanya kabut. Tarian angin yang selama ini terkadang hanya berhembus sepoi, kini meliuk keras hingga membuat pohon-pohon yang harusnya ikut kelu dengan perpisahan ini, harus ikut menari. Tertiup angin, kabut yang menggulung dari Gunung Tongko, tercerai-berai, jatuh satu per satu setelah menipis seperti potongan-potongan kecil benang putih. Tipis. Menyerupai musim salju.
”Kalian harus rajin belajar, biar pintar seperti Kak Galang!”
Suaraku seolah tak terdengar. Aku sadar telah menangis. Mereka menikmati kesedihannya dengan menatapku tiada lepas. Satu per satu mereka datang mencium tanganku, memelukku hingga bahuku basah air mata.
”Kak Galang suatu saat akan kembali ke sini kan?” ucap Rustan. Satu-satunya murid yang mampu berucap saat memelukku. Yang lain hanya diam. Kerongkongan mereka hanya mampu mengeluarkan suara tangis yang kadang tertahan, membuat tangis itu terdengar semakin melukakan.
Aku tak bisa menjawab pertanyaannya hingga bis membunyikan klakson. Kulepas jas almamaterku, lalu kupasangkan di tubuh kecil Rustan. Meski dia sangat bahagia dengan pemberian itu, air matanya tetap saja datang mewakili sisi hatinya yang terluka.
Wajah mereka benar-benar hampa akan harapan saat aku melangkah menaiki bis. Mereka masih terlalu kecil untuk merasakan perihnya patah hati. Aku yakin, baginya, ini lebih dari patah hati. Setelah diberi harapan menapak masa depan, mengejar cita-cita, meraih bintang, tiba-tiba kompas yang diharapkannya harus hilang. Air mataku luruh. Lenganku bahkan tak bisa kuangkat untuk membalas lambaiannya, padahal bis sudah beranjak perlahan. Bergerak menjauh dari mereka, semakin jauh. Hingga akhirnya, hanya ruang di balik dadaku yang mampu mendengar tangis kehilangannya.
***
Acara pelepasan mahasiswa KKN di kota kecamatan, berlalu begitu saja. Suara tangis murid-muridku masih mengiang jelas. Sosoknya masih terbayang jelas.
”Kamu kenal dengan orang yang membawa kata sambutan di atas sana?” tanya Fauzi, teman posko yang kebetulan duduk berdampingan denganku.
Aku tak usah menjawab, karena kutahu itu retoris untukku. Sosok itu juga yang mewakili pak camat karena tak sempat hadir, membawa kata sambutan saat kami baru datang di wilayahnya ini dua bulan lalu.
”Dia itu alumni SD Kecil tempatmu mengabdi dua bulan.”
Aku menatap Fauzi tak percaya, tapi dia meyakinkanku dengan anggukan. Katanya, menurut cerita kepala desa, masih banyak pejabat kabupaten yang dulunya sekolah di SD Kecil itu, bahkan ada yang sudah menjadi anggota dewan. Bukan karena dulunya SD Kecil itu sekolah unggulan, tapi karena SD Kecil itu mendidik orang-orang yang berkemauan besar untuk maju.
Tapi mengapa tak ada yang kembali untuk membangunnya? Bukankah SD Kecil itu yang telah membuat mereka menjadi orang besar?
Sekolah itu telah mereka anggap sebagai ibu yang telah menelantarkannya dulu. Tak bisa memberi ASI yang cukup apalagi gizi sempurna. Dan giliran mereka sekarang untuk menelantarkan SD Kecil itu. Mungkin mereka telah merasa berhasil membalas sakit hatinya dengan ’mengutuk’ sekolah itu jadi batu, tak bisa tumbuh besar. Tapi, tanpa pernah mereka sadari, mereka juga adalah Pejabat Kundang. Guru-guru yang makan gaji dari sekolah itu, namun tak pernah mengabdi, juga adalah Guru Kundang.
Itu hanyalah sebagian kecil kedurhakaan, yang tanpa disadari telah membuat bumi ini sering murka.***


mawar melati semua indah


MAWAR MELATI SEMUA INDAH
Oleh: S. Gegge Mappangewa

NANDA meraih pulpen. Perih mengikuti jejak cerita yang akan digoreskannya. Sedih, lelah! Membuatnya tak bisa menggoreskan satu kata pun. Air matanya luruh tiba-tiba, saat karang hati yang pernah dibiarkan terhempas badai apapun, tumbang akhirnya. Dia pun mengalah! Melangkah menemui ibunya, yang memang menginginkan kekalahan itu.

“Inikah yang ibu inginkan?” ucapnya sambil mengibaskan rambut hitamnya.
Mata wanita yang dipanggilnya ibu, berbinar sudah. Tidak lagi basah! Juga tak ada lagi kalimat badai yang keluar dari bibirnya.
Nanda ingin menangis, tapi tetap dipaksa menarik dua sudut bibirnya, minim sekali senyum itu, seminim busana yang kini dipakainya. Di balik senyum itu tersimpan dendam. Lalu dengan langkah dibikin menggoda, dia melenggang di depan ibunya.
“Aku minta doa restu ibu,” penuh kemunafikan dia mengucap kata itu.
Teringat jilbab lebar yang pernah menutupi auratnya, dia ingin menangis. Sangat ingin! Namun lebih ingin lagi, dia ingin membahagiakan ibunya, menuruti keinginannya untuk menjadi bintang idola remaja.
Nanda tak pernah menduga, juga tak mengerti jika dia akan menjadi korban idol hunt yang kini meminta semua orang menatap ke media. Sedikit pun dia tak punya keinginan untuk menjadi bintang, apalagi jika harus merelakan aurat menjadi aura keberuntungannya. Tapi ibunya, berawal dari membujuk, lalu setengah memaksa, namun kini menyuruh Nanda pergi dari rumah jika dia tetap mempertahankan jilbabnya.
Ibunya ingin semua orang berdecak kagum, janda ditinggal suami yang hidup sebagai tukang jahit tapi masih bisa menghidupi kedua anaknya dengan layak. Dira yang sulung telah sukses sebagai idola remaja. Uang dan popularitas telah didapatkan, dan ibunya menginginkan, Si bungsu Nanda mengikuti jejaknya.
“Ini bukan untuk ibu, Nanda. Apa kamu nggak sakit hati pada ayah yang meninggalkanmu? Kamu bisa saja bertahan dengan kesabaranmu, tapi tolong balaskan dendam ibu. Membuat lelaki bejat itu kembali dan mengemis di rumah ini.”
Nanda ingin menutup telinga, tapi dipilihnya berlaku manis. Menurutnya, ibu tak salah menaruh dendam pada ayah yang menikah lagi. Tapi yang membuatnya tak mengerti, meski harus diterima juga, permintaan ibunya yang menyuruhnya menjadi model.
Kebanggaan ibunya dulu, pada Nanda yang anggun dengan jilbabnya, pada Nanda yang sopan langkahnya, kini pudar. Bahkan profesi Nanda sebagai penulis fiksi, tak dipandangnya. Sebelah mata pun tidak!
“Sudah berapa tahun kamu jadi penulis, siapa yang memujimu? Kamu hanya pemain di balik layar. Kamu cantik, pintar. Anugerah Tuhan jangan disia-siakan!”
Dulu, saat kalimat itu terlontar untuknya, dia masih bisa berkilah, membela diri bahkan tak rela dirinya dibanding-bandingkan dengan Kak Dira, hanya karena profesi.
“Sebelum Kak Dira jadi model, aku nggak pernah merasa dinomorduakan. Tapi kenapa sekarang ibu perlakukan untukku…”
“Ibu ingin melihat kamu sukses seperti kakakmu,”
“Dengan memaksaku? Jilbabku yang ibu kagumi dulu pun ingin ibu lepas paksa dari tubuhku,” setengah menangis dia mengucap kalimatnya.
Tapi ibunya tetap pada pendiriannya. Nanda mencoba cara lain. Banyak diam, bahkan menghindar dari ibunya hingga berkesan perang dingin. Tapi hasilnya tetap mengecewakan. Nanda bahkan terusir dari rumah jika tetap mempertahankan prinsip. Bukan tak ada jalan lain, tapi Nanda merasa jika menuruti keinginan ibunya adalah jalan terbaik saat ini.
***
“Jilbaber kita berganti bikini,”
Sungguh! Gendang telinganya terasa pecah mendengar kalimat itu. Dia tetap melangkah, menelusuri koridor kampus yang penghuninya melayangkan mata ke arahnya. Dia memaksa tersenyum, menganggap koridor kampus sebagai cat walk yang akan ditempatinya melenggang saat jadi model kelak.
“Nanda?” suara tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu, milik Fatah.
Nanda berhenti sejenak, menatap ke arah Fatah yang langsung tertunduk menerima tatapannya. Ini yang pertama kalinya dia menatap lama ke wajah Fatah. Sebelumnya, dia lebih banyak mendengar suaranya dari balik hijab mesjid. Kalaupun bertemu, tidak ‘sedekat’ ini.
“Jenggoter kita patah hati, nih!” teriak mahasiswa lain yang sedang melihat Nanda dan Fatah dalam kebekuan.
Nanda ingin bicara, tapi tak tahu harus mengucap apa. Fatah yang pergi darinya pun, tak mampu ditahan langkahnya. Kali ini dia menangis. Merasa kehilangan Fatah, teman setia di aktivis dakwah.
Sebenarnya Nanda tahu apa yang akan terjadi jika dia menuruti keinginan ibunya. Bahkan keberaniannya datang ke kampus dengan pakaian minim, semata karena ingin ‘uji nyali’ sekaligus membiasakan diri tampail funky.
Nanda telah membulatkan tekad untuk menjadi model! Di balik tekad itu, dia punya rencana tersendiri untuk ibunya. Mungkin semacam dendam tapi itu terpaksa dilakukan setelah tersiksa oleh paksaan dan amarah ibunya.
Padahal dia boleh saja tak serius di audisi model yang diikutinya kemarin, tapi demi dendam itu dia berusaha menjadi yang terbaik. Hasilnya tentu saja menggembirakan, buat ibunya! Meski buat dirinya sangat menyakitkan. Nanda terpilih sebagai nominasi model yang akan masuk karantina dan dibimbing ke jalan glamour.
Nanda menangis saat ibunya memberinya senyum bangga dengan prestasi yang diraihnya. Sekian lama hidup dengan ibunya, tanpa ayah, bahkan tanpa materi berlebih, namun Nanda bahagia. Tapi kini…? Keberhasilan Dira menjadi model, bukannya membuat ibunya puas. Padahal cari apa lagi? Rumah sederhana yang dulu ditempati hidup kekurangan, kini telah ‘disulap’ Dira menjadi istana. Bahkan usaha jahitan telah berubah menjadi konveksi besar. Puas tetap tak teraih. Nanda jadi korban, menggadai iman demi keinginan ibunya.
***
Nanda tahu dendam itu dosa, apalagi jika rasa itu untuk orang yang telah melahirkannya. Tapi Nanda telah meniatkannya sejak dia luluh untuk meluruhkan jilbab dari tubuhnya. Baginya, bayaran perih hati saat dia terpaksa melepas jilbab, haruslah setimpal. Paling tidak memberi teguran pada ibunya yang materialis.
Popularitas di tangan kini. Model agency tempatnya terdidik, bukan hanya memilihnya sebagai juara kedua, namun juga sebagai pemenang favorit pilihan penggemar. Tapi sedikit pun Nanda tak berbangga, bencinya malah semakin menjadi.
Dan benci pun membuncah kini. Saat wajahnya telah terpampang di lembaran majalah remaja sebagai idola, pada hampir tiap sudut kota di papan iklan yang dibintanginya. Apalagi di televisi, hampir semua peran sinetron dilakoninya. Seperti niatnya dari awal, saat namanya telah melambung dan terikat perjanjian kontrak Production House, dia pun kembali ke habitat semula, sebagai jilbaber!
“Kamu gila, Nanda! Bukankah kamu telah terikat kontrak dengan iklan shampo, gimana surat perjanjian yang telah kamu tanda tangani dengan rumah produksi, peran kamu di sinetron sebagai gadis funky, tanpa jilbab! ” ibunya panik.
“Tapi perjanjian antara ibu dan Nanda, cuma sebatas jadi model…”
Kalimat Nanda terpotong oleh tamparan keras ibunya.
“Jangan anggap sepele! Rumah produksi bisa saja nuntut kamu miliyaran,”
“Kan ada denda kurungan, itu jika ibu tak mau merelakan harta yang ibu peroleh dari Dira, untuk kebebasan Nanda.”
Ibunya memelas, memaksa, juga menampar lagi. Tapi Nanda bergeming. Bahkan mengadakan jumpa pers tentang keputusannya meninggalkan dunia selebritis.
Bukan tak ada perih. Iba telah berubah menjadi ujung pedang yang mengiris-iris saat rumah, mobil dan usaha konveksi ibunya tersegel demi membayar denda pelanggaran surat perjanjiannya dengan rumah produksi. Iba bukan karena tak punya apa-apa lagi, tapi karena ibunya yang tiba-tiba shock, tak kuat menerima kenyataan yang mendadak berubah arah.
“Kamu nggak punya perasaan!” cecar Dira. “Bukan begini caranya membalas sakit hati pada ibu. Sebesar apa pun salahnya, apa susahnya melupakan, memaafkan. Atau karena jiwa kecilmu tak mampu mengingat perjuangan ibu menghidupimu tanpa ayah?
Salahkah dia punya mimpi setelah tidurnya tak kau nyenyakkan dengan tangismu di tengah malam? Minta disusui, digantikan popok!”
Nanda diam. Ujung jilbabnya telah basah air mata. Sementara ibunya terkulai lemas berjuntaian selang infus.
“Sebenarnya bukan saat kamu memilih untuk jadi model, kamu harus melepas jilbab. Tapi saat kamu membangun kebencian pada ibu, di situlah jilbabmu tak pernah pantas! Nanda, bukan kamu yang harus memberi teguran pada ibu, tapi Tuhan!”
Mendengar Dira mengucap kata Tuhan, sesal semakin menyiksa. Sedikit pun dia tak pernah meminta persetujuan-Nya lewat istikharah, saat dia memilih menjadi model. Begitu juga saat melepaskan bencinya lewat dendam, tak pernah sekali pun dia meminta petunjuk lewat doa, dia bertindak sendiri!
“Maafkan Nanda, Bu!”
Tubuh ibunya yeng terkulai, dipeluk lekat. Dibasahi dengan air mata penyesalan. Tubuh itu masih juga bisu, mendekati beku.
“Permisi!”
Pelukan Nanda terlepas. Matanya yang beralih ke asal suara membuat detak jantungnya berirama keras. Dia ingin bicara, menjelaskan pada petugas kepolisian yang datang, jika utangnya pada rumah produksi telah lunas dari hasil pelelangan harta ibunya, tapi mata petugas itu menatap tajam ke arah Dira yang membalas tatapan itu dengan gugup.
“Bisa ikut kami ke kantor?”
Dira tampak tak bisa mengelak. Seolah tahu jika dirinya bersalah. Nanda bisu, bingung, tak mengerti dengan pemandangan yang kini disaksikannya.
“Kak Dira!” desisnya tapi tak dipeduli.
Nanda ingin mengikuti langkah Dira yang dikawal petugas kepolisian, tapi ibunya yang mulai menggerakkan jari, setelah seharian hilang dari kesan kehidupan, memaksanya tinggal dan menemani ibunya.
“Maafkan Nanda, Bu! Nanda menyesal. Aku keterlaluan! Ibu mau memaafkanku, kan?”
Pejaman mata ibunya terbuka sejenak lalu tertutup lagi. Dia ingin membuka mata untuk Nanda, tapi terlalu berat. Kelopaknya menyimpan tangis. Korneanya merindukan sosok Nanda yang anggun dengan jilbabnya. Tapi rindu itu tertahan oleh sesal yang telah membedakan kedua puterinya, hanya karena profesi. Kelopak basah kemudian! Jemarinya mengenggam jari Nanda yang menjabatnya. Erat sekali!
“Nanda, Ibu yang salah…” serangkai kalimat terucap akhirnya.
Nanda menggeleng. Tapi ibunya membuka mata, menatap layu pada Nanda yang masih dibasahi tangis. Tatapan yang meminta Nanda menyerahkan semua kesalahan padanya. Baginya, tak cukup dengan sesal. Harta dan dendam pada suaminya telah membuatnya berpaling dari Tuhan, bahkan memaksa puterinya merintis jalan setapak, di antara duri. Kenyataan kini membuatnya sadar, mengingat kematian yang sekian lama luput dari ingatannya.
“Dira ke mana?”
Bergetar bibir Nanda menerima pertanyaan itu. Tangisnya terhenti, berganti kemirisan. Tentu saja tak tepat menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Dira, meski sebenarnya dia pun tak tahu apa yang membuat Dira dijemput petugas kepolisian.
“Kak Dira ada syuting katanya,”
“Ibu ingin memeluknya. Ibu rindu,” katanya sambil meraih remote tv dan meng-on-kan.
Wajah Dira memang ada di layar kaca, tapi tak seperti biasanya. Kali ini wajahnya hadir di acara infotainmen dan menampilkan sosoknya sebagai tersangka pengedar dan pengguna drugs.
Mata Nanda tak betah menatap layar tv. Tatapnya beralih ke arah ibunya. Dia takut, akan terjadi apa-apa pada ibunya menyaksikan kenyataan baru, yang jauh lebih pahit.
“Ibu sedih. Perih! Tapi tak rapuh. Kuharap Dira bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpanya, seperti ibu yang kini tak bisa membedakan posisi kalian, hanya karena warna …”
Nanda melabuhkan peluknya, menumpahkan tangis di tubuh ibunya yang berusaha setegar mungkin. Dalam pelukan itu, meski perih yang akan mengikuti jejak goresan penanya, dia tetap tak sabar ingin meraih pulpen, lalu bercerita panjang.
Kutulis kisahku, pada karang dengan jari telanjang! batinnya membayangkan kalimat pembuka cerpennya, setelah sekian lama tak menulis.
***



simpan untukmu sendiri



SIMPAN UNTUKMU SENDIRI
Oleh: S. Gegge Mappangewa

SETIAP ke rumah Andien, benakku selalu dilumuti tanya. Tanya yang kusimpan sendiri karena tak ingin, juga takut jika setiap pertanyaanku berkesan menyelidik. Barang-barang mewah, foto keluarga, dan juga rumah megah, seolah sebuah jejak sidik masa lalu Andien.
Andien yang di sekolah periang, seolah tanpa beban apa pun, tapi setiap kudapatkan di rumah, dia tak lebih hanyalah mayat hidup. Kalau pun tertawa atau melayaniku cerita, itu tak lebih hanya peran yang harus dilakonkannya sebagai tuan rumah.
syukur, setahun berteman dengannya, aku sudah bisa menemukan satu jawaban dari seribu pertanyaan yang selalu hadir di benakku. jawaban itu diperdengarkan untukku tanpa kuminta. Mungkin curiga jika setiap kunjunganku berkesan cari tahu, akhirnya dia buka mulut jika rumah yang ditempatinya, cuma rumah kontrakan!
“Rumah kontrakan?”
Mataku terbelelak. Jelas saja aku heran, cewek seusia Andien. Kelas satu SMA! Memilih rumah kontrakan semegah ini? Taman yang luas, dua lantai, ruang tamu dipajangi foto keluarga, peralatan dapur yang komplit! Apa nggak sebaiknya, cukup dengan tinggal di tempat kost dengan kamar yang luas, lalu dipasangkan AC, plus home theater jika perlu! Daripada harus pilih rumah yang lebih cocok untuk orang berkeluarga seperti ini.
“Mama yang menginginkan ini, Ririn!” ucapnya saat membaca keherananku.
“Tapi kamu nggak takut tinggal sendiri di rumah luas seperti ini, kenapa nggak sekalian cari pembantu untuk membantumu merawatnya?”
Dia menggeleng pelan. Lalu bercerita jika sejak kecil dia ditempa menjadi cewek yang mandiri. Masa SD pun nggak pernah merepotkan harus diantar dan dijemput dari sekolah. Dia berangkat dengan tukang becak langganannya. Pernah tukang becak langganannya berhalangan, tanpa takut dia ikut menunggu di halte. Bertanya pada semua orang trayek bis menuju rumahnya.
Mendengar semua itu, giliranku menggeleng tak percaya. Aku pikir dia mengada-ada. Tapi pikiran salahku itu cepat dibenarkan oleh kenyataan yang kulihat selama ini. Andien yang bisa memimpin ratusan siswa sebagai ketua Osis, ketua panitia di setiap acara sekolah. Anehnya, sebagai pemimpin dia tak pernah mengandalkan telunjuknya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Dia sendiri yang turun tangan, kalau pun harus menyuruh, kalimatnya tak lebih hanyalah permintaan. Bukan menyuruh apalagi memerintah!
Andien memang terkenal sopan. Bicara dengan teman sekolah pun, seolah berhadapan dengan guru. Bertutur sambil senyum, menunduk sesekali jika perlu!
Aku sendiri ngeri jika harus membayangkan diriku akan seperti Andien. Bukan takut tinggal sendiri di rumah semegah ini. Aku malah takut kehilangan masa yang seharusnya kunikmati. Andien yang seharusnya hanya ‘dibebankan’ oleh tugas sekolah demi mempertahankan peringkat kelas yang memang tak pernah dilepaskannya, juga harus berperan sebagai ‘ibu rumah tangga’ yang merawat rumah.
Andien seolah terkarbit. Meski usia dan wajahnya masih muda, tapi isi kepalanya terlalu tua. Pesta adalah foya-foya, menghambur uang, uang lebih baik ditabung demi keperluan mendadak daripada jalan ke mal tanpa tujuan yang jelas, dan entah prinsip apalagi yang selalu dipertahankannnya. Prinsip yang seharusnya ada pada wanita berkeluarga. Bukan pada Andien yang masih kelas satu SMA!
Meski begitu, Andien bukanlah pelit. Butuh uang berapa tinggal bilang, Andien tak pernah keberatan untuk meminjamkan. Bahkan kegiatan sosial yang diadakan sekolah pun, dia sering mengeluarkan uang pribadi untuk menambah besarnya dana yang akan disumbangkan. Ya, selama itu bukan urusan foya-foya, adalah sah-sah saja menurut Andien.
Belum sejam cerita dengannya, sebuah Nissan Terrano masuk di pekarangan.
“Mamaku datang, Rin!”
“Kamu baik-baik saja, Andien?”
Andien mengangguk! Kecupan wanita itu kemudian mendarat di kening Andien, tanpa sempat merapikan poninya dulu. Ya, tanpa sempat! Dengan langkah tergesa masuk ke dalam rumah. Dari pintu, kulihat dia masuk di kamar yang membelakangi ruang tamu. Andien membuntutinya setelah pamit sebentar denganku.
Saat pamit tadi, ada yang lain di tatapan Andien. Mungkin malu melihat perlakuan mamanya yang sedikit pun tidak menghargaiku sebagai tamu. Jangankan menyapaku, senyum pun tidak. Hanya ekor matanya yang tertuju padaku, melirik seolah mencari tahu, teman bergaul Andien seperti apa.
Tak cukup seperempat jam, Andien dan mamanya keluar. Masih dengan langkah tergesa.
“Kamu baik-baik ya, Sayang!”
Andien menerima kecupan lagi. Bukan sekali! Tubuh mungil Andien pun, didekapnya erat. Rindu di mata anak beranak itu jelas sekali kulihat. Aku berdiri menghampiri saat pelukan mereka terlerai, tapi yang kudapat hanya senyum tanda pamit. Hanya itu!
“Maaf jika mamaku kurang menganggapmu ada. Dia buru-buru sekali! Dia hanya transit di sini, pesawatnya akan berangkat lagi jam satu siang. Dia khawatir ketinggalan pesawat!”
“Memang dari mana?”
“Belum tahu, mama dan papaku tinggal di Yogya? Dia habis mengunjungi anak perusahaan yang ada di Kawasan Industri!”
Perlahan, akhirnya aku banyak tahu tentang Andien. Pikirku selama ini dia orang Makassar. Tapi entah kenapa, tetap saja ada yang mengganjal di pikiranku. Seolah Andien semakin menyembunyikan sesuatu untukku, setiap dia mengungkap cerita tentangnya.
“Itu foto waktu aku masih kelas enam SD,” ucapnya sambil mendekatiku yang sedang melihat foto keluarga yang tergantung di ruang tamu.
“Kamu anak tunggal?”
Kali ini Andien cuma mengangguk, padahal di mataku, ada yang ingin terucap di bibirnya. Saat seperti itulah aku merasa ada yang tersembunyi di balik diri Andien. Mungkin curiga aku melihat perubahan di wajahnya, dia kembali bercerita banyak tentang dirinya. Cerita yang semakin membuatku ingin tahu lebih banyak lagi tentangnya.
“Aku memang sering ingin punya saudara, tapi Mama dan Papa yang sibuk lebih mengutamakan karir. Jangankan berpikir untuk punya anak lagi, aku saja yang sudah ada seolah tak pernah terpikirkan!”
Aku menepuk bahunya. Meski tak menangis mengucap kalimat itu, kutahu ada yang tergores di balik dadanya. Menyesal juga, aku terlalu ingin tahu tentangnya.
Giliranku untuk bercerita. Memberinya semangat, memintanya bersyukur dengan keadaannya sekarang. Aku pun heran, aku tiba-tiba seperti orangtua yang menasihati anaknya, saat memintanya membuka mata jika dia masih lebih baik ditelantarkan dalam kemewahan. Ada bahkan banyak orangtua yang menelantarkan anaknya di jalanan karena memang tak punya materi untuk menyayangi mereka, atau mungkin juga memang tak ada kasih sayang. Semua harus disyukuri!
Andien menangis di pelukanku. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat berarti buat Andien. Selama ini dia selalu merasa tak butuh bantuan. Segalanya bisa diatasi sendiri. Tapi kini tangis yang disimpannya sendiri selama ini, kini dibagi untukku.
***
Seharian di mal membuatku memilih istirahat di kafe lantai dasar. Baru saja kurapatkan duduk, suara anak kecil yang kira-kira masih di bangku SD, menggelitikku untuk balik ke meja yang ada di sampingku. Sejenak mataku terpaku di meja yang dikelilingi oleh beberapa orang, termasuk anak kecil yang merengek dan memanggil papa pada lelaki yang duduk di sampingnya.
Aku tak mungkin salah lihat, meski wajahnya hanya kusaksikan di foto, aku yakin lelaki itu papa Andien. Lalu anak kecil itu, juga wanita yang dipanggilnya mama? Aku mengerutkan kening, wanita itu bukan mama Andien yang kulihat kemarin.
Aku cepat keluar sebelum memesan apa-apa di pramusaji kafe. Andien harus tahu jika papanya punya wanita simpanan. Bukan sibuk kerja seperti alasannya selama ini. Pulsaku yang habis semalam dan belum sempat kuisi ulang memaksaku mencari wartel.
Selangkah sebelum masuk wartel, mataku mendapatkan pemandangan yang semakin ‘mengerikan’. Ini pasti mimpi buruk buat Andien. Mamanya sedang berpegang pada lengan seorang lelaki seusianya. Tak hanya itu, juga seorang anak kecil berada di antara mereka. Bahkan sedang melangkah menuju kafe yang tadi ditempati papa Andien dan keluarga simpanannya.
Beginikah kesibukan mereka selama ini? Tapi kenapa harus di sini, bukankah menurut pengakuan Andien, mama dan papanya tinggal di Yogya?
Andien harus tahu, aku tak boleh membiarkan dia dibohongi terus oleh orangtuanya. Tak peduli itu melukakan buat Andien, aku tak ingin menyimpan kenyataan ini sebagai rahasia.
“Ririn!”
Belum sempat aku berbalik memenuhi panggilan itu, lenganku telah ditarik menjauh.
“Andien?”
“Kamu sudah lihat semuanya, kan? Kuharap kamu jangan bercerita pada siapa pun di sekolah. Aku malu!”
Andien tertunduk menahan tangis karena sadar jika dia sedang di tengah keramaian mal.
“Aku bukan orang Yogya! Rumah yang kutempati bukan rumah kontrakan, Ririn. Rumah itu diwariskan untukku sejak lulus SD. Diwariskan karena mama dan papa memilih cerai.”
Kutarik lengan Andien, tangisnya semakin tak bisa ditahan. Lebih tak bisa ditahannnya lagi, beban yang kini menghimpit dadanya. Saat merapatkan duduk di jok mobilku, dia langsung melanjutkan ceritanya di antara isak.
Aku seperti kehilangan konsentrasi menyetir saat mendengar semuanya. Tentang Andien yang tiap hari Minggu ke mal mencari mama dan papanya. Dia tahu sekali jika mama dan papanya sengaja ke kafe tadi, untuk saling membuktikan bahwa mama maupun papanya bisa bahagia dengan keluarga barunya.
Andien hanya bisa melihat wajah mama dan papanya dari jauh. Bersebelahan meja tanpa tegur sapa! Ya, hanya untuk memanas-manasi, saling membuktikan kebahagiaan mereka! Dan tentu saja Andien tak boleh mendekat, karena keluarga mamanya, juga keluarga papanya tak pernah mengharapkan kehadirannya.
Hanya sebulan tinggal bersama mama tirinya, papa memintanya pulang ke rumah karena selalu menjadi penyebab pertengkaran dengan isteri barunya. Mamanya lebih parah, bukannya mengajak bergabung, malah menghadiahinya rumah warisan asal tak ikut dengannya, karena suami barunya tak ingin ada Andien dalam rumah.
Semua mencari kebahagiaan sendiri sejak Andien masih kelas satu SLTP. Andien harus sendiri! Sendiri menentukan hidup, sendiri mencari bahagia. Termasuk mengintip kebahagaiaan keluarga mama dan papanya yang baru. Karena melihat mama dan papanya, dari jauh pun, adalah kebahagiaan tersendiri buat Andien.
“Semua kusimpan sendiri, Ririn! Bahkan mencari pembantu pun di rumah aku nggak mau karena nggak ingin ada yang tahu rahasia ini. Sekarang kamu terlanjur tahu. Simpan rahasia itu demi aku, Ririn! Kumohon!”
Aku tak tega membiarkannya memelas seperti itu di depanku. Aku berjanji akan tetap menjadi Ririn yang dulu. Sahabat yang tak pernah tahu apa pun tentang Andien. Akan kubiarkan dia menyimpan rahasia itu untuknya tanpa pernah menyingkapnya. Tapi tangisnya, takkan kuijinkan dia menyimpannya sendiri.
***


permintaan sahabat



PERMINTAAN SAHABAT
Oleh: S. Gegge Mappangewa

Suasana kantin masih sepi. Bel istirahat memang belum saatnya melantun. Kalaupun Yudith telah ada di sana, menikmati soft drink dingin bersama Wija, itu karena pelajaran olah raga usai lima belas menit sebelum waktunya.
Yudith, terlebih Wija, belum bisa mengungkap kata apapun. Hingga soft drink di depannya tinggal tersisa separuh, keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Wija mencari kalimat yang tepat untuk memulai, Yudith tengah mempersiapkan alasan jika Wija lagi-lagi dengan keputusannya.
“Ini bukan inginku, Yud!”
“Kamu ingat, siapa yang memperkenalkan Bening padaku? Kamu, Wija! Kamu lupa, gimana kamu memaksaku untuk mendekati Bening, karena katamu, daripada jatuh ke tangan orang lain, dan aku sangat kamu percaya untuk menjaga Bening,”
“Sekali lagi Yud, ini bukan inginku. Ini keinginan papaku. Bening juga berat bahkan hingga kini belum memutuskan untuk menerima tawaran papa.”
“Aku sahabat kamu kan, Wija?”
“Yud, Aku lakukan ini karena aku nganggap kamu sahabat. Kalau sudah papaku yang turun tangan, jangankan Bening, aku bahkan mungkin juga dilarangnya berteman dengan kamu.”
Yudith terluka mendengar pengakuan barusan. Seperti inikah sahabat? Mengedepankan materi, dan perasaan hanyalah sampingan. Ternyata salah bila menganggap persahabatan tak melihat latar belakang sosial. Dulu saat Yudith belum seperti sekarang, rumah megahnya belum berganti gubuk untuknya, bahkan berubah jadi bui untuk papanya, Wija seolah ingin mempersembahkan segala yang terbaik untuknya. Termasuk memperkenalkan Bening, adik Wija!
Pascaperkenalan itu Yudith tak menyimpan perasaan apapun pada Bening, meski sangat akrab. Mungkin karena dia telah menganggap Wija sebagai saudara, hingga Bening ikut hadir di hatinya sebagai adik. Yudith menggeleng saat dipaksa mencintai Bening.
“Aku nggak ingin Bening, adikku, jatuh ke tangan cowok nggak becus. Apalagi kulihat Irfan sering mengantarnya pulang sekolah!” alasan Wija saat itu.
Tapi kini, Wija datang untuk memisahkannya dengan Bening, saat Yudith telah mencoba, bahkan selama dua tahun memaksa hatinya untuk mencintai Bening yang sebelumnya tak pernah hadir di hatinya, kini Wija meminta dia untuk mundur, setelah cinta itu merekatkan hati dia dan Bening. Alasannya sangat masuk akal, papa Wija tak mengijinkan anaknya jalan dengan anak seorang koruptor yang kini menebus dosa di bui.
Bukan hanya Wija dan Yudith. Papa mereka pun adalah sahabat lama yang bekerja dalam satu instansi. Bahkan perkenalan Yudith dan Wija, juga karena papa mereka yang sering saling mengunjungi layaknya kerabat. Tapi saat papa Yudith terbukti korupsi, lalu harta tersita, papa dijatuhi hukuman dan terkunci dalam sel, tiba-tiba saja Yudith seperti mengidap penyakit menular yang harus dijauhi, dikucilkan!
“Aku terlanjur mencintai Bening…”
“Bening juga seperti itu, Yud! Aku kasihan melihat dia, menangis dan menangis saat dipaksa papaku untuk menjauh darimu.”
Teriris hati Yudith membayangkan Bening menangisinya.
“Yud, ini bukan salah papaku. Tapi papamu yang…”
“Berhenti menghakimi papaku, Wija!”
Yudith paling tak suka pada orang yang hanya melihat keburukan papanya. Yudith sangat ingat, bagaimana papanya berkarir di kantor. Tak pernah mementingkan urusan keluarga daripada urusan kantor, bahkan waktu pun tak ingin dikorupsinya. Harus tiba di kantor sebelum jam kantor, dan pulang setelah saatnya. Dan keuletan itu yang membuat karirnya menanjak. Di puncak karir itulah dia tergoda untuk ‘mengambil lebih’ dari apa yang harus diterimanya. Ya, dosa papa terjadi saat tiba di puncak karir, dan itulah yang orang-orang lihat, tanpa pernah mau berpikir bahwa papanya dulu tak sejahat itu.
Dia bukan ingin membela papanya dengan asumsi bahwa korupsi itu manusiawi. Dia hanya ingin orang lain tak melihat sisi buruk papanya saja, karena dia tahu, papanya sangat berjasa dalam perkembangan perusahaan. Nila setitik itu, benar-benar telah menodai susu sebelanga.
Di saat dia butuh sahabat untuk menenangkannya, semua orang menjauh. Untunglah Yudith tegar. Berpijaklah pada kenyataan, Yud! Ungkap batinnya saat ingin berlari menjauh. Bukan hanya dia, ketegaran yang dibangunnya, juga membuat mamanya masih bisa memiliki senyum. Dia selalu menenangkan mamanya, untuk menerima jalan hidup yang membentang di depannya. Juga tak pernah bersikap kurang ajar di depan papanya. Yudith tetap memperlihatkan bahwa dia masih bangga punya papa sepertinya.
Jika dia tak bersikap seperti itu, mungkin saja mamanya sudah stroke, lalu lumpuh, atau papanya berpindah dari bui ke bangsal rumah sakit jiwa.
Yudith telah melalui separuh cobaan untuknya dengan sabar, bahkan tanpa air mata. Tapi saat diminta untuk melepaskan Bening, dia tak bisa. Bukan semata karena cintanya tak bisa berpindah, juga karena dia merasa terhinakan dengan perlakuan Wija.
“Jika saja kamu memintaku mundur bukan karena aku terjatuh miskin, papaku terperosok di lumpur, aku nggak akan berkeras hati seperti ini. Di mana perasaan kamu, Wija? Saat senang kamu menjadi sahabatku, bahkan mencomblangin aku dengan adikmu. Tapi saat aku susah, kamu ingin mengambil semua pemberianmu kembali. Harusnya saat seperti ini kamu ada di dekatku, itu jika kamu benar-benar sahabatku.”
Inilah untuk pertama kalinya Yudith menangis. Bukan atas nama cinta untuk Bening, juga bukan karena takdir buruk yang tiba-tiba menimpanya, tapi karena perlakuan sahabatnya.
Bel istirahat berlalu dari pendengarannya. Siswa yang berhamburan masuk kantin, membuat suasana tak cocok lagi untuk mereka. Yudith beranjak demi menyembunyikan air matanya dari siswa-siswa yang lain. Saat merogoh saku untuk membayar menu pesanannya, Wija cepat mencegatnya dan langung mengambil alih untuk membayar. Yudith terjaga. Dulu Wija tak pernah melakukan itu, setiap habis makan, siapa yang duluan berdiri itulah yang mentraktir. Sekarang, Yudith tak dipantaskan lagi untuk mentraktir.
“Jangan tersinggung! Aku tahu kamu punya uang. Ini hanya sebagai bukti bahwa aku masih sahabatmu,” ucap Wija membaca ketersinggungan Yudith.
“Aku nggak pernah menilai persahabatan dengan materi!” sinis Yudith. Wija yang akhirnya tersinggung.
***
Yudith menangis lagi. Kali ini di depan papanya. Dia tak tega untuk tak menangis menyaksikan papanya berseragam napi. Tubuh kekar papanya, disaksikannya tak lagi seperti dulu.
“Maafkan papa,”
“Aku menangis bukan menyalahkan papa ataupun takdir. Aku kasihan melihat papa,”
Papanya menggeleng. Lagi-lagi diakui papanya sebagai pelindung untuknya, saat papa membawanya ke dalam pelukan.
“Yudith, aku mengajak kamu melalui cobaan ini apa adanya. Terima dengan sabar, Yud! Bantu aku meyakinkan mamamu bahwa ini adalah kenyataan, jalan hidup yang harus dilalui. Mungkin seperti merintis jalan setapak saat tersesat di tengah rimba. Kita nggak hanya butuh kompas, tapi juga kesabaran.
Kita juga butuh waktu untuk terbiasa, kamu dan mamamu terbiasa hidup miskin, dan papa di sini terbiasa dalam segala keterbatasan ruang dan gerak. Jika semua sudah biasa, ini tak akan menjadi derita, tapi sebuah pengalamaan berharga.”
Papanya meleraikan pelukan, menatap wajah Yudith untuk memastikan jika anak satu-satunya itu bisa menerima kenyataan.
“Gimana dengan Bening? Dia nggak kecewa kan dengan semua ini?”
Yudith mengangguk pasti. Dia memang sangat tahu, jika Bening tak mempermasalahkan masa lalu papanya. Terlebih, dia sangat tahu jika Bening terlalu mencintainya. Hanya saja, Papa Bening yang tak menghendaki hubungan mereka terus berlanjut.
Saat pertanyaan beralih tentang Wija dan papanya, Yudith tak tahu harus bercerita apa. Wija sahabatnya, tak bisa berbuat banyak saat papanya, yang juga sahabat karib dengan papa Yudith, berkehendak untuk memisahkannya dengan Bening.
“Om Rasyid melarang Bening jalan denganku lagi,”
Jelas sekali jika papanya menerima kalimat itu sebagai pukulan. Dulu Yudith memperhatikan air muka papanya saat palu hakim diketukkan yang memvonisnya sebagai pelaku tindakan korupsi. Air muka seperti itu, kini mengalir lagi di wajah papanya.
“Kita sudah miskin, Pa! Siapapun akan berlaku seperti itu pada keluarga kita sekarang, Pa.”
“Tapi Rasyid nggak boleh berlaku seperti itu,”
“Karena dia sahabat papa? Wija juga sahabatku, tapi sedikit pun dia nggak mau membantu dengan membujuk papanya untuk nggak memisahkanku dengan Bening. Manusia itu musim, Pa. Suatu waktu akan berubah.”
Papanya tetap menggeleng. Yudith bisa mengerti ketakmengertian itu. Dia tahu betul, papanya dan papa Wija berteman sejak masih sekolah. Apalagi saat media mengangkat nama papa sebagai tersangka tindakan korupsi, papa Wija setiap saat datang menenangkan papanya. Bahkan saat papa divonis hukuman penjara, papa Wija masih di samping papa dan berjanji tak akan membiarkan Yudith dan mamanya hidup terlantar.
Tapi jangankan membantu dengan menyediakan rumah tinggal, saat seluruh kekayaan tersegel, papa Wija bahkan tak ingin tahu ke mana dia hidup setelah keluar dari rumah. Padahal papa Wija punya banyak rumah yang dikontrakkan bahkan masih kosong.
“Om Rasyid mungkin membuat papa kecewa, tapi kuharap papa percaya bahwa masih ada aku dan mama yang membanggakan papa.”
“Tapi papa mendekam di sini, bukan karena ulah papa sendiri. Rasyid yang paling berhak atas hukumanku ini…”
Yudith meminta papanya mengecilkan volume suaranya. Dia takut ada sipir penjara yang mendengar semua kalimat papa. Dia menerbangkan pandangan ke setiap penjuru ruangan, saat tak mendapatkan siapa-siapa, dia meminta papanya untuk melanjutkan kalimatnya.
Terlalu. Sangat menyakitkan memang. Ternyata papanya dan papa Wija, makan sepiring dalam kasus korupsi itu. Bahkan papa Wija yang paling banyak mengambil keuntungan. Terlebih lagi, papa Wija adalah pemain lama yang selalu lolos dari sangkaan karena barang bukti berupa tanda tangan selalu ada di rekannya.
“Rasyid memintaku, memaksaku menandatangani cek kosong itu, Yudith! Papa nggak mau, tapi sebagai bendahara kantor, apalagi yang memintaku adalah pimpinan sekaligus sahabat. Belum lagi, Rasyid berjanji akan melindungiku…”
Papanya tak bisa melanjutkan kalimatnya. Inilah untuk yang pertama kalinya dia melihat papanya menangis karena dosa yang telah dilakukannya. Tangis terhianati memang selalu lebih sakit dari tangis karena apapun.
“Aku harus mengungkap semua ini. Selama ini papa menganggap Rasyid akan menjadi pelindungmu di luar penjara, tapi ternyata mengucilkan kamu. Papa yakin, pasti karena dia nggak ingin dicurigai terlibat. Jika dia bisa menganggapku bukan lagi sebagai sahabat, aku juga bisa menganggapnya sebagai musuh!”
Yudith menggeleng. Dia tak ingin ada dendam. Dia tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada Wija sahabatnya, juga pada Bening, jika cobaan serupa ini ikut menimpa keluarganya.
“Pa, kuharap papa tutup mulut,” pelas Yudith.
Papanya menggeleng. Yudith juga tak ingin mengalah. Memelas, memaksa, bahkan menangis di depan papanya agar tak menjebloskan papa Wija ke dalam penjara. Saat petugas penjara datang menjemput papanya untuk kembali ke kamar tahanan, perdebatan itu terhenti. Tanpa keputusan.
Tapi saat hendak berlalu dari hadapan Yudith. Papanya mengangguk pelan, menandakan bahwa dia mengalah, untuk tidak buka mulut.
Yudith kemudian pergi, pulang ke rumah, dan tak akan pernah melangkahkan kaki untuk menemui Bening. Bukan benci pada papa Bening, tapi karena dia tak ingin kecurigaan atas kasus korupsi beralih ke papa Bening. Semua karena cintanya pada Bening, juga pada Wija sahabatnya.
Tapi saat tiba di rumah. Tivi ukuran kecil yang terletak di ruang tamu sempit berlantai campuran semen kasar, menampilkan sosok papa Wija di hot news, sebagai tersangka kasus korupsi. Ternyata kunjungannya ke rumah tahanan menjenguk papanya barusan, tanpa didampingi petugas saat ngobrol dengan papanya, bukan sebagai keteledoran petugas, tapi sebagai jebakan. Sebuah kamera tersembunyi terpasang di sudut ruangan, juga tape recorder di bawah meja. Semua pembicaraannya dengan papanya di rumah tahanan tadi, kini disiarkan oleh hampir semua siaran tivi swasta.
Telepon berdering. Dari Wija!
“Yudith, mamaku masuk rumah sakit. Stroke!”
Yudith ikut merasakan luka sahabatnya itu.
***
Besoknya. Telpon berdering lagi.
“Yudith, Bening meninggal karena over dosis. Drugs!”
Yudith menghapus air mata lagi. Karena baru saja dia menyaksikan di tivi jika papa Wija digiring masuk penjara.
“Wija, kamu masih punya mama meski belum sadar dari koma. Kamu masih punya papa, meski kini dalam penjara. Kamu masih punya aku, sebagai sahabat, meski telah kamu kecewakan. Terlebih, kamu punya dirimu sendiri, meski kutahu ini terlalu berat untuk kamu pikul. Pintaku, kamu harus tegar, untuk menyelamatkan milikmu yang masih tersisa itu.”
Wija menutup telepon tanpa pamit. Dia akan memenuhi permintaan Yudith untuk tetap sabar. Tegar!
***













;;

By :
Free Blog Templates